Museum Gunung Merapi di Sleman, Apa Saja Isinya?

by 2 weeks ago
Travel 0   59 views 0

Museum Gunung Merapi, menjadi salah satu tempat favorit untuk mempelajari gunung-gunung api yang ada di Indonesia. Dengan fasilitasnya yang cukup lengkap, masyarakat mendapatkan suatu edukasi dari mulai sejarah hingga mitigasi bencananya.

Museum ini didirikan pada 2005 silam. Kemudian, dinyatakan selesai dan dioperasikan untuk pertama kalinya pada 1 Januari 2010.

Setelah lima tahun berdiri, museum yang mempunyai luasan bangunan sekitar 4.470 meter persegi tersebut, terus mengalami peningkatan pengunjungnya. Bahkan saat ini, bisa mencapai lebih dari dua ribu orang dalam sehari yang ingin belajar mengenai gunung api di museum tersebut.

Di dalam museum yang dikelolanya, terdapat banyak fasilitas atau koleksi yang di simpan di dua lantai. Lantai pertam terdapat ruang maket. Yang mana, ada satu tempat maket Gunung Merapi. Ini yang menjadi ikon museum. Yang mana sebuah simulasi Merapi meletus. Menggambarkan peristiwa (erupsi) 1969, 1994, dan 2006.

Keluar dari ruang maket, pengunjung kemudian disuguhkan dengan berbagai fasilitas yang menunjukkan berbagai gunung api, terutama yang ada di Indonesia. Dari mulai sifatnya maupun macam-macam letusannya.

Meski menyajikan pengetahuan berbagai gunung api di tanah air, namun yang paling ditonjolkan tetap pembelajaran mengenai Merapi. Karena museum yang diperuntukkan khusus bagi warga di lereng gunung yang paling aktif di dunia ini, memang ditujukan agar masyarakat mengerti akan tingkat bahaya dan tahu bagaimana mitigasi bencananya.

Di beberapa ruangan yang ada di lantai dua, menyuguhkan banyak foto berukuran besar mengenai Merapi. Keadaan secara visualnya dari sejak 1900 silam, 1930, dan seterusnya, terdapat di sini.

Tak hanya gunungnya saja, namun pos-pos pengamatan gunung Merapi pun terabadikan dalam foto yang ditampilkan. Juga terdapat momen setiap kali pejabat yang berkunjung ke pos pengamatan, saat Merapi berakrivitas pun ada. Seperti Presiden Soekarno, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Agar lebih mengena, selesai melihat seisi dari museum tersebut, pengunjung pun dapat menikmati sebuah film suatu kejadian erupsi Merapi. Film yang diproduksi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta itu berdurasi 30 menit.

Pembelajaran mengenai Merapi ini, masyarakat terutama yang di lereng wajib tahu. Jangan sampai ketika terjadi erupsi, ada korban jiwa lagi. Di museum ini pembelajaran pengetahuannya memang lebih banyak mengenai Merapi dan bagaimana mitigasinya ketika terjadi bencana.

Yang menarik, agar masyarakat bisa lebih mengenal dan tertarik untuk berkunjung ke museum yang berada di Jalan Kaliurang km 22, Banteng, Hargobinangun, Pakem ini adalah konsep pemasarannya. Pengelola tak membatasi atau melarang pengujung yang datang berfoto atau sekedar selfie di dalam museum.

Dengan membebaskan pengujung mengabadikan aktivitasnya dengan foto tersebut, paling tidak ada yang upload atau diunggah ke jejaring sosial mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *