Bupati Bantul Usulkan Sleman dan Kota Yogyakarta Punya TPA Sendiri

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Terkait penutupan tempat pengelolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan oleh warga Dusun Banyakan, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan sejak Sabtu (7/5) kemarin.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengusulkan cara tercepat dan terefisien adalah Sleman maupun Kota Yogyakarta memiliki tempat pembuangan akhir (TPS) sendiri-sendiri.

“TPST Piyungan yang menjadi tempat pengelolaan sampah regional dari Sleman, Kota Yogyakarta dan Bantul kan milik Pemda DIY. Dengan otoritas ada di Pemda DIY, kita mendorong TPST dikelola dengan penerapan teknologi yang termutakhir sehingga lebih efisien dan efektif,” kata Halim kepada wartawan di Komplek Kepatihan, Selasa (10/5).

Mewakili warga Bantul, Halim berharap dan memohon Pemda DIY untuk bisa menyelesaikan permasalahan TPST Piyungan yang sering terjadi berlarut-larut.

Bahkan tidak hanya untuk sampah saja, Bantul juga menjadi daerah buangan bagi limbah-limbah regional dari dua Sleman dan Kota Yogyakarta.

“Seharusnya Sleman memiliki TPA dan dikelola sendiri. Selain wilayahnya lebih luas dibandingkan Bantul, kehadiran TPA sendiri menjadi solusi tercepat dan terefisien dalam penanganan sampah,” jelasnya.

Usulan ini menurut Halim didasarkan pada perbandingan rata-rata pembuangan sampah harian ke TPST Piyungan.

Dimana dari tiga daerah, hanya Bantul yang sumbangsih sampahnya paling kecil, 150 ton per hari.

“Kita sudah menggalakkan program Bantul Bersih Sampah 2025 (Bantul Bersama) sehingga sampah sudah dipilah di oleh warga bahkan sampai di tingkat dusun,” ucapnya.

Terkait dengan tuntutan warga yang minta ditemui Gubernur, Sultan Hamengku Buwono X menyatakan akan mengusahakan mencarikan waktu untuk merealisasikannya.

“Problem penanganan sampah di TPST Piyungan lamanya studi yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan BUMN bidang pembiayaan infrastruktur dibanding tingkat keterisian sampah,” jelasnya.

Studi ini dilakukan guna menentukan teknologi yang digunakan untuk mengelola sampah di TPST Piyungan.

“Mereka (semestinya) memahami butuh waktu mengatasi. Kami berharap supaya punya ruang untuk bisa dialogkan dengan warga. Secara teknis bapak-bapak ini yang lebih paham jauh kondisi lapangan,” katanya.

Sejak ditutup paksa Sabtu (7/5), di Kota Yogyakarta tumpukan sampah mulai terlihat di berbagai depo sampah yang tidak bisa terangkut ke TPST Piyungan. Pengelola depo masih mengijinkan perorangan membuang sampah, namun tidak untuk gerobak. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *