Rabu, 28 Januari 2026
Koran Jogja

Di Hari-hari Terakhirnya, Buya Syafii Lebih Banyak Curahkan Perhatian

 

Yogyakarta, Koran Jogja – Seminggu menjelang meninggalnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1995-1998, Ahmad Buya Syafii Maarif dikabarkan lebih banyak memberikan perhatian pada masyarakat kecil yang semuanya dianggap saudara.

Hal ini disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat memberikan jumpa pers di RS PKU Gamping, Jumat (27/5).

“Almarhum adalah tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral etika serta peradaban mulia baik dalam internal Muhammadiyah umat dan bangsa. Pemikirannya terus melintasi dan selalu konstan pada pemikiran-pemikiran maju pemikiran-pemikiran besar untuk bangsa dan negara ,” kata Haedar.

Haedar yang menemani almarhum Buya setengah jam sebelum dipanggil Allah, menceritakan seminggu terakhir Buya dikabarkan lebih banyak mencurahkan perhatian pada masyarakat kecil.

“Buya selalu bertanya serta memperhatikan para satpam dan siapapun yang dianggap sebagai saudara,” jelas Haedar yang membatalkan kunjungan ke Bandung setelah mendapat kabar Buya kritis saat di Klaten.

Haedar menyebut tim dokter RS PKU Muhammadiyah dan berkoordinasi dengan tim dokter kepresidenan, telah bekerja profesional dan tanggung jawab optimal. Namun sesuai dengan garis takdir, Buya meninggal di usia 87 tahun pukul 10..15 WIB.

Mewakili PP Muhammadiyah dan bangsa Indonesia, Haedar mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Buya Syafii Maarif.

Haedar mengajak warga bangsa selalu mendoakan almarhum diampuni kesalahannya, diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di surga,.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Evita Devi Noor Rahmawati menerangkan Buya mendapatkan perawatan intensif sejak mengalami serangan jantung kedua pada 14 Mei lalu.

Sebelumnya, Buya juga mendapatkan serangan jantung pada 15 Maret namun membaik dan diperbolehkan pulang.

“Kondisi Buya semakin membaik pasca dirawat dua minggu. Rencana kita akan merekomendasikan perawatan di rumah. Selama dirawat beliau patuh terhadap obat,” kata Evita.

Namun Jumat pagi, Buya mengalami sesak nafas dan harus dirujuk ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan kateterisasi jantung. Namun karena sumbatan di pembuluh jantungnya sudah terlalu keras. Sehingga pemasangan ring tidak bisa dilakukan. (Set)

Leave a Reply