Gandeng Huawei, BSSN Gelar Pelatihan Keamanan Siber

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan serangan siber diprediksikan terus berkembang, baik dari segi taktik, teknik, maupun prosedur yang digunakan. Selama tiga hari, bersama Huawei, BSSN mengelar pelatihan peningkatan kapasitas keamanan siber.

Melalui rilis Senin (26/10), pelatihan dan diskusi online tentang keamanaan siber bertema ‘Cyber Attack Countermeasures’ yang diselenggarakan mulai 26-28 November di Museum Sandi, Kota Yogyakarta.

Melalui pelatihan ini, Kepala BSSN Letjen (Purn) Hinsa Siburian mengatakan pihaknya kedepan akan menghadirkan tim Tim Respons Insiden Keamanan Komputer atau Computer Security Incident Response Team (CSIRT).

“Tim ini akan tersebar di di 17 titik baik di kementerian, lembaga negara, maupun wilayah,” kata Hinsa.

Dengan luas wilayah dan banyaknya bidang multi sektor, Indonesia dinilai rawan serangan siber. Maka pembentukan CSIRT di 17 titik sebagai langkah antisipatif dalam penanganan insiden.

“Serangan-serangan tersebut perlu menjadi perhatian dalam meningkatkan kewaspadaan nasional. Khususnya di era digital saat ini, masyarakat memerlukan pengetahuan yang cukup terkait manfaat maupun kerentanan yang ada di ruang siber.,” katanya.

Deputi III BSSN Mayjen Yoseph Puguh Eko Setiawan, menerangkan 17 CSIRT ini tersebar di kementerian, lembaga, dan wilayah. Penempatan CSIRT ini mendesak karena saat ini isu keamanam siber sudah menjadi isu strategis berbagai negara.

“CSIRT terdiri dari CSIRT Nasional, CSIRT Sektoral (mencakup sektor pemerintah/instansi, BUMN dan swasta), serta CSIRT Organisasi,” ujarnya.

Keberadaan CSIRT Indonesia kedepan diharapkan akan semakin cepat memberikan layanan yang meliputi respon insiden berupa triase insiden, koordinasi insiden, dan penyelesaian insiden.

“Sebagai upaya perecepatan pembentukan CSIRT ini, kami
mengandeng Huawei melaksanakan pelatihan drill test cybersecurity, lokakarya atau bimbingan teknis, serta pendampingan pembentukan CSIRT sektor pemerintahan,” kata Puguh.

CEO Huawei Indonesia Jacky Chen, kerjasama ini adalah tahap awal membentuk tim respons insiden khusus dan proses respons kerentanan yang sesuai dengan ISO.

“Kami akan terus berbagi pemahaman tentang teknologi baru dan risiko keamanan siber yang sesuai; berorientasi masa depan dan kolaborasi inovatif. Ini adalah sebuah kehormatan bagi,” katanya dalam rilis.

Tersedianya SDM yang terlatih terhadap segala macam ancaman dan keamanan siber adalah hal penting penting di era digital dan menjadi tumpuan memperkuat pertahanan keamanan siber yang handal.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *