Hasrat Pamer di Instagram Diteliti, Dosen Ini Raih Doktor

by 3 months ago

Sleman – Lahirnya media sosial menciptakan dimensi sosial yang baru di masyarakat. Salah satunya istagram mampu mengalirkan dimensi kehidupan kelas menengah untuk mengalami redefinisi dan diferensiasi dalam menunjukkan praktik sosialnya. Itu salah satu kajian Disertasi yang telah diteliti oleh Rama Kertamukti untuk mendapatkan gelar Doktor di Universitas Gadjah Mada.

Pada Disertasinya yang berjudul ”Hasrat Pamer Diri Kelas Menengah Indonesia Di Instagram: Media Baru, Identitas Dan Masyarakat Jaringan”, dengan Promotor Prof. Dr Heru Nugroho dan Dr. S Bayu Wahyono, Rama berhasil mempertahankan hasil penelitiannya dalam ujian tertutup di depan penguji. Kemudian dinyatakan lulus dan telah menerima ijazah gelar Doktornya, Rabu(22/7) kemarin.

Dari penelitian ini Rama menjelaskan bahwa hasrat pamer diri kalangan kelas menengah di instagram tidak hanya persoalan praktik leisure dalam bermedia sosial saja. Selain itu juga perkembangannya leisure dalam dunia siber seperti aktivitas di media sosial kelas menengah meredifinisi mengenai kesenangan dalam aktivitas di waktu luang dengan melakukan tindakan bekerja-beraktivitas-bersosialisasi di media sosial, adanya shifting pleasure.

Rama menambahkan di dalam aktivitas berinstagram ada kesadaran sosial untuk memperlihatkan tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk menghadirkan praktik leisure yang tidak hanya dalam mengkonsumsi tetapi juga dalam memproduksi pesan demi mengukuhkan identitas status kelas menengah yang dimiliki. Pengukuhan identitas itu dengan memamerkan hal-hal yang bersifat bernilai dalam pemilihan tempat, aktivitas, fashion, dan gaya.

“Penelitian ini memerlukan metode kualitatif yang khusus dengan menggunakan metode etnografi virtual. Dalam konteks instagram yang diteliti adalah foto yang diunggah dan dipertontonkan oleh kelas menengah.” kata Rama dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut Rama kelas menengah memberikan ruang bagi tubuhnya untuk diperlihatkan pada orang lain. Bagi kelas menengah tubuh adalah fakta budaya yang mereflekskani hubungan objek dan relasi sosialnya. Sehingga di dalam instagram tubuh mereka dapat dikonsep sesuai budaya yang dibangun instagram. Sehingga tubuh mereka seperti terambil oleh kuasa dari pemiliknya sendiri.

“Bahkan, kesolehan dan kebangkitan beragama dikonstruksi pemilik akun dengan konten-konten yang dihadirkan secara mudah dengan foto maupun kata-kata sebagai tindakan Unggahan-unggahan informan disini adalah bentuk religy endorsement untuk menaikkan eksistensi identitas.” ucap Rama.(rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *