Kalah Pilkada, PKS Bantul Giatkan Kaderisasi

by

Bantul, Koran Jogja – Belajar dari kekalahan Pilkada Bantul 2020, DPD PKS Bantul bakal menguatkan penjaringan kader partai guna menyambut Pemilu 2024. DPD PKS optimis mampu menaikan perolehan suara yang pada 2019 hanya 8 persen menjadi 12-15 persen.

Target ini disampaikan Ketua DPD PKS Bantul periode 2020-2025, Agung Laksmono usai membuka musyawarah daerah di Hotel Ros In Bantul, Senin (28/12).

“Ada dua fokus yang akan kita realisasikan dalam program kerja partai kedepan. Pertama adalah meningkatkan kaderisasi partai dengan menjaring calon anggota sebanyak mungkin dan merealisasikan visi misi pusat meraih suara dua digit di Pemilu 2024,” kata Agung.

Untuk merealisasikan target itu, Agung mengatakan PKS Bantul akan tetap bekerjasama dengan pemerintah daerah namun dalam bingkai partai yang oposisi konstruktif.

Artinya PKS tidak akan menyerang secara membabi buta atas segala sesuatu yang berbeda. Namun PKS akan menyerang mengkritik keras segala kebijakan pemerintah daerah yang tidak berpihak kepada rakyat.

“Kami siap diajak bekerja sama, asalkan demi kesejahteraan rakyat. Namun kami juga siap mengkritik keras, jika hal itu menyimpang,” ucapnya.

Kedepan, PKS melalui fraksi di DPRD Bantul akan mengawasi dengan ketat pelaksanaan berbagai program kebijakan yang wajib dijalankan oleh pemerintah daerah, terutama yang terkait dengan pandemi Covid-19.

Agung mengatakan tiga program besar yang akan diawasi ketat PKS yaitu penyaluran bantuan sosial, pemulihan ekonomi dan pemulihan kesehatan.

Langkah ini diharapkan nantinya akan berdampak pada perolehan suara PKS di 2024. Dimana sebelumnya pada 2019 suara PKS hanya sekitar 56 ribu suara, ditargetkan memperoleh 112 ribu suara dan menduduki lebih dari empat kursi DPRD saat ini.

Sementara, program partai ini menurut Ketua DPD PKS 2015-2020 Amir Syarifuddin selaras dengan kondisi pasca kekalahan Pilkada serentak kemarin. Pasangan Suharsono-Totok Sudarto kalah suara hingga 77 ribu suara dengan Abdul Halim Muslih – Joko Purnomo.

“Faktor utama kekalahan kemarin adalah jumlah suara tidak mencapai kemenangan. Menang kalah itu biasa, dan ini bagian dari evaluasi,” kata Amir.

Namun yang menjadi catatan pribadinya, kekalahan ini tidak lepas dari kurang giatnya pasangan Suharsono-Totok terjun menyapa masyarakat. Tidak hanya itu, kerjasama antara partai pengusung diakui kurang.

“Terlebih lagi partai pengusung lawan yaitu PDIP dan PKB sedang onfire,” katanya.(set)