Konsep Malioboro, Diprioritaskan Bagi Pejalan Kaki

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta Ni Made Dwi Panti Indrayanti konsep Malioboro ke depan memang diprioritaskan untuk pejalan kaki. Sedangkan untuk menjadi bagian dari World Heritage Unesco, penataan ini hanya sebagai program pendukung saja.

“Penataan Malioboro sebagai kawasan yang memprioritaskan pejalan kaki sebenarnya sudah dua tiga tahun lalu berjalan. Dimulai dari revitalisasi trotoar, penanaman pohon, pemasangan bangku dan pembuatan ceruk kendaraan tradisional,” katanya dalam sebuah diskusi di DPRD DIY, Sabtu (7/11).

Penutupan Malioboro selama dua minggu dari uji coba kendaraan bermotor, bagi Dwi Panti sebagai upaya mendukung terciptanya kawasan yang menjadi sumbu filosofi dengan nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

“Soal berbagai complain selama ujicoba ini kami nilai wajar. Dari ujicoba ini kita ingin mendapatkan perbandingan dampak ekonomi maupun sosial yang muncul dari penutupan,” lanjutnya.

Karena itulah, Dwi Panti meminta masyarakat untuk mengubah pola pikir terkait dengan penutupan ini. Menurutnya, jika memang kendaraan tidak bisa melintasi Malioboro, maka masih ada Trans Jogja sebagai angkutan public yang bisa digunakan.

“Semua akses sudah kita fasilitasi termasuk parkir. Kita tidak tidak bisa lagi berpikir harus parkir di depan toko atau terdekat di Malioboro, seperti bertamu. Itu sudah biasa. Kita ingin berikan yang berbeda di Malioboro,” jelasnya.

Mengenai berbagai protes yang muncul terutama Paguyuban Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY), Dwi Panti mengatakan semua akan diterima dan menjadi bahan evaluasi bagi semua tim yang terlibat.

“Kita tidak ingin sakdek, sak nyet. Semua perlu direncanakan dan dicoba. Di Malioboro sendiri kita juga bingung. Saat Malioboro ramai dan macet, pemerintah dituduh tidak bekerja. Saat dilarang kendaraan bermotor masuk, kita dituduh tidak peduli,” keluhnya.

Tentang kemungkinan enggannya warga lokal berkunjung ke Malioboro karena sulitnya akses, Dwi Panti menyatakan semua akan dilihat usai pelaksanaan uji coba.

Juru Bicara Komunitas Kawasan Malioboro Paul Zulkarnaen mengatakan dampak nyata yang timbul dari penutupan ini adalah runtuhnya kembali bidang ekonomi yang sudah mulai bangkit usai dihantam pandemi Covid-19.

“Semestinya, sebelum pelaksanaan program ada sosialisasi dulu dan bagaimana solusi penyelesaian masalah yang nantinya muncul. Sekarang 22 paguyuban yang tergabun meminta penutupan kendaraan bermotor alangkah lebih lebih dimulai pukul 18.00-22.00 WIB,” jelasnya.

Sementara Kepala UPT Malioboro Ekwanto menegaskan jauh sebelum uji coba dilakukan, pihaknya sudah mengumpulkan semua pihak untuk mensosialisasikan ke seluruh paguyuban.(set)