Lebih Ganas, Mutasi Corona D614G Tidak Terkait Penyebaran

by

Sleman, Koran Jogja – Temuan 3 virus Corona yang bermutasi dengan nama D614G dinilai sebagai adaptasi paling tinggi untuk bisa hidup di manusia. Meski memiliki 10 kali lipat lebih cepat tertular dari mutasi sebelumnya, namun mutasi ini tidak bisa dikaitkan dengan tingkat paparan yang terjadi.

Selasa (1/9), Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM merilis temuan mutasi Corona. Dari 11.250 sampel yang berasal dari DIY dan 4.311 sampel Jateng, usai penelitian ditemukan empat virus yang mengalami mutasi.

“Namun hanya tiga virus yang terlihat jelas bermutasi menjadi D614G yang berasal dari dua sampel DIY dan satu Jawa Tengah,” kata Ketua Pokja Genetik FK-KMK UGM, Gunadi Rabu (2/9).

Mengutip teori evolusi Charles Darwin, Gunadi mengatakan mutasi yang dilakukan virus ini sesuai teori untuk keberlangsungan hidupnya. Mutasi yang terdekteksi ini dinilai paling sesuai dengan kondisi inangnya yaitu manusia.

Ia menyatakan sebenarnya temuan mutasi pada Corona ini sudah diketahui pada Februari lalu di Eropa dengan nama D614. Saat itu penyebaran di sana sebatas 35 persen dari jumlah yang terpapar.

Lalu menyebar ke seluruh dunia lewat Oceania dank e ASIA sehingga tingkat pesebaran virus mutasi mencapai 77,5 persen pada akhir Agustus lalu.
“Mutasi ini cara ngeles virus dari sistem imun tubuh manusia. Tingginya angka pesebaran karena adanya pegerakan manusia yang tidak dibatasi,” jelasnya.

Meski memiliki memiliki 10 kali lebih tinggi tingkat penularan, tapi tim Pokja Genetik belum berani menghubungkan dengan tingkat keparahan saat ini, terutama di DIY-Jateng.

Berkaca pada penelitian di Inggris yang melibatkan hampir seribu orang, mutasi virus Corona ternyata tidak berpengaruh pada derajat atau persebaran paparan.

“Apakah temuan ini bisa mengambarkan pesebaran paparan, kami menjawab bisa jadi ya dan bisa jadi tidak. Tapi tidak bisa disimpulkan,” ucapnya.

Tapi yang pasti, dengan terdeteksinya virus Corona di Indonesia. Gunadi meminta membuat masyarakat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti cuci tangan, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan.

Anggota tim lab diagnostik FK-KMK UGM, Titik Nuryastuti pihaknya mengatakan temuan mutasi virus hingga saat ini belum bisa dikaitkan dengan vaksi yang tengah diujicoba.

Ia meminta masyarakat tidak kuatir, karena laporan penelitian menyatakan vaksi Corona akan memberikan perlindungan terhadap bentuk virus apapun.

Dalam sambutannya, Dekan FKKMK Ova Emilia menyatakan temuan ini penting karena untuk menyingkapi satu penyakit yang belum banyak mengerti. Penemuan kedepan menjadi acuan untuk melihat tingkat penyebaran dan kemungkinan mutasi yang lebih ganas.

“Tentu saja berkaitan dengan upaya ke depan pengembangan vaksi dan terapi. Yang kita lakukan menjadi modal besar dasar ke depanya seperti apa,” katanya.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *