Madumongso ‘Bagaskoro’, Dari Otodidak Hingga Jadi Andalan

by

Bantul, Koran Jogja – Keinginan memiliki usaha sendiri membuat Amelia Andriani memilih kudapan Madumongso sebagai andalan.

Bertahan selama dua belas tahun, Madumongso ‘Bagaskoro’ menjadi andalan Dusun Ngringinan untuk lebih dikenal.

Beralamatkan di RT 10 Dusun Ngringinan, Desa Palbapang, Bantul. Andriani bercerita pemilihan Madumongso karena saat itu kudapan yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur ini masih belum banyak diproduksi di Bantul karena lamanya proses memasaknya.

“Saya harus belajar otodidak untuk menemukan komposisi bahan yang tepat untuk bisa diterima pasar. Saya bersyukur sampai hari ini, produk kami sudah diterima pasar, bahkan hingga keluar Yogyakarta,” katanya Rabu (20/4).

Dia bercerita untuk setiap olahan sebanyak 15 Kg yang terdiri dari ketan masak yang diberi ragi hingga menjadi tape kemudian dicampur gula dan parutan kelapa. Dalam proses memasak akhir dibutuhkan waktu minimal enam jam.

Di awal proses memasak, beras ketan mengalami dua kali pencucian, yaitu sebelum dikukus dan setelah setengah matang sebelum dikukus hingga masak. Dibutuhkan waktu dua hari untuk menjadikan beras ketan menjadi tape.

Dari sini sini proses pencampuran dengan gula, parutan kelapa dan santan membutuhkan waktu dua hari. Baru itu dimasak matang.

Menurutnya tidak semua bisa mengaduk olahan hingga menjadi yang seperti diinginkan, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Dibantu dengan tujuh pekerja, Andriani menyatakan setiap harinya harus mengolah sebanyak 50 Kg bahan jadi Madumongso untuk memenuhi pesanan yang masuk.

Dibandrol sekilo Rp52 ribu, pembeli bisa memilih Madumongso yang disajikan bulat atau lonjong. Untuk setiap kilonya yang dikemas dengan wadah plastik ataupun besek terdapat 50-60 biji Madumongso.

“Saat ini selain dipasarkan melalui online, kami juga masih mengandalkan toko oleh-oleh sebagai pasar utama. Selain itu produk kami juga lulus kurasi hingga bisa diperdagangkan di area Bandara Yogyakarta International Airport,” kata ibu dua anak ini.

Terkait kondisi penjualan, Andriani mengaku menjelang lebaran tahun ini sudah mulai banyak pesanan yang masuk.

Dalam hitungan kasarnya, selama libur lebaran nanti sudah ada pesanan yang masuk hingga totalnya mencapai satu ton.

Kondisi ini rasa jauh berbeda dengan dua tahun pandemi lalu dimana pesanan setiap harinya hanya mencapai angka 30 Kg setiap harinya.

“Saya bersyukur, pandemi kami memaksa kami berinovasi dengan menghadirkan produk lain yaitu puding. Produk ini yang kemarin memperpanjang usaha ini,” jelasnya.

Kedepan, Andriani berkeinginan menghadirkan produknya dalam kemasan ramah lingkungan untuk bisa meraih segmen pasar lebih luas.

Hal ini didasarkan pada penjualan Madumongso nya yang dikemas dengan besek laku pesat di kawasan Bandara YIA.

Baginya, menghadirkan kemasan yang ramah lingkungan masih menjadi tantangan untuk diwujudkan.

Dia bercerita di Juni nanti bersama dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba bereksperimen menghadirkan bahan kemasan yang ramah lingkungan.

Salah satunya adalah dengan menggunakan kertas yang digunakan restoran cepat saji untuk sebagai pembungkus nasi putih. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *