Marah, Dendam, dan Jengkel dengan Pasangan? Ini 6 Tips Cara Mengelolanya

by

Koran Jogja – Kemarahan lazim terjadi dalam hubungan, baik dalam hubungan romantis dengan pasangan, maupun juga dalam persahabatan dan hubungan keluarga. Terlepas dari prevalensinya, kita tidak selalu memahami sifat sebenarnya dari emosi yang kuat ini atau bagaimana hal itu memengaruhi orang yang kita cintai. Memahami bagaimana kemarahan muncul dalam hubungan dapat membantu mendapatkan wawasan tentang bagaimana menangani kemarahan Anda sendiri dengan lebih efektif, atau melawan pasangan, teman, atau anggota keluarga yang marah.

Kemarahan datang dalam banyak ragam. Tidak semua bentuk emosi ini memiliki target. Misalnya, frustrasi dengan laptop Anda dan amarah yang mengambang bebas terkait dengan kesedihan tidak memiliki target. Meskipun kemarahan tanpa target dapat menyebabkan masalah dalam hubungan, konflik yang timbul dari jenis kemarahan ini sering kali dengan mudah menyebar.

Tidak seperti kemarahan tanpa target, kemarahan bermusuhan dapat menyebabkan masalah hubungan yang lebih besar, karena itu terkait dengan tanggung jawab dan kesalahan. Dalam bentuknya yang lebih jahat, kemarahan bermusuhan juga dikenal sebagai “amarah” atau “murka”. Jenis kemarahan bermusuhan yang cepat berlalu sering kali berbentuk kemarahan atau ledakan kemarahan.

Bagaimana amarah yang berumur pendek memengaruhi suatu hubungan bergantung pada frekuensi dan intensitas ledakan amarah. Ledakan intensitas tinggi yang sering terjadi adalah bentuk pelecehan verbal, emosional, atau fisik. Mereka termasuk berteriak, menyebut nama, meremehkan, mengancam, meninju dinding, membanting pintu, melempar benda, dan memukul, di antara perilaku lainnya.

Tetapi tidak semua amarah berumur pendek. Kemarahan terkadang tetap ada karena masalah hubungan tertentu tidak pernah dihadapi dan diselesaikan. Saat amarah tetap ada, itu menjadi kebencian atau kemarahan.

Kebencian dan kemarahan cenderung bertahan lebih lama daripada ledakan kemarahan yang singkat. Mereka bisa bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun — sebagian besar tetap tersembunyi di bawah tabir kesadaran yang tipis, tetapi kadang-kadang memeriksa dengan Anda.

Baik dalam kebencian maupun kemarahan, kita bereaksi terhadap ketidakadilan yang dirasakan. Dalam kebencian, kita mengambil sasaran dari kebencian kita karena telah melakukan ketidakadilan pribadi. Kebencian biasanya muncul dalam hubungan ketika kita mengira orang lain telah melakukan sesuatu yang salah atau tidak adil kepada kita — sesuatu yang bukan sekadar pengawasan. Misalnya, jika teman dekat Anda tidak mengundang Anda ke pernikahannya, meskipun hampir semua kenalannya diundang, hal itu dapat menyebabkan kebencian yang berkepanjangan terhadap teman Anda.

Kemarahan, atau apa yang kadang kita sebut “kemarahan”, adalah analogi dari kebencian. Saat Anda marah, yang mengkhawatirkan Anda adalah ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang lain — mungkin ketidakadilan sosial. Meskipun amarah bisa terjadi demi tujuan yang mulia, berbagai amarah ini masih bisa membahayakan hubungan kita, jika tidak diungkapkan atau dikelola dengan benar.

Misalnya, Anda mungkin merasa kesal setelah mengetahui bahwa ibu Anda — yang merupakan direktur R&D di sebuah perusahaan besar — ​​baru saja menerima kenaikan gaji sebesar lima puluh persen, meskipun mengetahui bahwa perusahaan tempatnya bekerja baru-baru ini melepaskan dua ratus pekerjanya. Kemarahan yang Anda alami dalam skenario ini dapat dengan mudah menyebabkan Anda memandang ibu Anda sebagai orang jahat, mungkin mengubah permusuhan Anda menjadi kebencian atau penghinaan. Permusuhan mendalam terhadap ibu Anda bahkan bisa menjadi awal dari akhir hubungan orang tua Anda yang sampai saat itu sangat erat.

Kebencian dan kemarahan yang mengakar juga dapat menimbulkan pelecehan emosional, terutama perilaku pasif-agresif, seperti perlakuan diam, berbicara dalam kode, mencoba untuk mendapatkan simpati, terus-menerus melupakan, atau perilaku cemberut, adalah beberapa di antaranya.

Lalu bagaimana kita mengelola dan menyelesaikan masalah kemarahan dalam hubungan? Berikut beberapa tips yang dikutip dari psychology today.

  1. Belajar Mengenali Kemarahan

Berusahalah untuk mengenali berbagai bentuk amarah dan perilaku yang biasanya menyertainya dalam diri Anda dan orang lain. Amati bagaimana amarah memengaruhi Anda dan orang lain.

Tanda-tanda ledakan amarah yang akan datang termasuk wajah memerah; gigi atau tinju yang terkatup; alis disatukan untuk membentuk “V,” menyebabkan kerutan di dahi; mata menyipit untuk membentuk tatapan tajam; atau hidung keriput akibat lubang hidung yang melebar.

Sakit perut, sakit kepala, dada atau tenggorokan sesak, jantung berdebar-debar, kelelahan, kecemasan, dan depresi dapat menandakan kebencian atau kemarahan yang berkepanjangan.

  1. Berusahalah untuk Mengontrol Kemarahan Anda

Jangan abaikan amarahmu. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Mulailah dengan mengontrol bagaimana bereaksi saat Anda marah. Hanya dengan demikian Anda harus mempertimbangkan cara untuk mengatasi emosi itu sendiri. Saat Anda merasa marah, tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda marah. Cobalah untuk memahami sepenuhnya alasan di balik kemarahan Anda sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

  1. Bertanggung jawab atas perilaku tercela Anda

Jika Anda membuat kekacauan dan meledak menjadi amukan atau ledakan amarah, ambillah tanggung jawab atas perilaku Anda yang tidak pantas dan menyakitkan. Tawarkan permintaan maaf yang tulus dan renungkan cara terbaik untuk menghindari pengulangan kesalahan yang sama di masa mendatang. Jika Anda terus-menerus merasa tergelincir, carilah bantuan profesional.

  1. Bersikaplah tegas

Pelajari cara berkomunikasi secara tegas. Menaikkan suara Anda, berteriak, meremehkan, atau terlibat dalam perilaku pelecehan emosional lainnya bukanlah komunikasi yang tegas. Komunikasi yang tegas melibatkan pengendalian emosi Anda, membela diri sendiri, dan mengekspresikan perasaan dan pikiran positif dan negatif dengan tegas sambil terbuka terhadap umpan balik.

Sekalipun Anda marah, keadaan emosi ini tidak perlu menyebabkan ledakan amarah; atau pelecehan verbal, emosional, atau fisik. Mengekspresikan kemarahan Anda melalui komunikasi tegas jauh lebih produktif.

  1. Setuju untuk Time-Out

Saat Anda marah, Anda tidak bisa berpikir rasional. Pandangan yang menyimpang tentang situasi dapat menyebabkan kesalahpahaman, interpretasi berlebihan, kesimpulan yang terburu-buru, dan pola pikir irasional lainnya yang dapat memengaruhi cara Anda menanggapi apa yang sedang terjadi.

Jangan mencoba mencapai kesepakatan ketika pikiran Anda sedang mendung. Sebaliknya, sepakati terlebih dahulu untuk meluangkan waktu ketika Anda tidak dapat melakukan percakapan yang produktif dan menjadi pendengar yang aktif.

Dan jangan lupa bahwa kita semua cenderung bereaksi secara tidak rasional saat kita merasa stres, mudah tersinggung, atau cemas.

  1. Pelajari Kapan Harus Mengatakan Berhenti

Apakah Anda setuju atau menyerah untuk tidak membuat pasangan Anda kesal? Apakah Anda merasa sedang berjalan di atas kulit telur, takut untuk berbicara karena takut akan konsekuensinya? Sudahkah Anda mencoba berbicara dengan pasangan Anda menggunakan komunikasi tegas.(rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *