Nasib Oleh-oleh Khas Gunungkidul di Tengah Corona

by

Gunungkidul– Pedagang makanan khas dari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami penurunan omzet yang cukup drastis akibat wabah Covid-19. Karena belum mendapatkan saluran bantuan, mereka pun beralih memaksimalkan penjualan untuk jenis makanan yang lain.

Sri Hawa, salah seorang pelaku usaha makanan khas Gunungkidul yang tinggal di Kecamatan Ngawen mengatakan sejak April hingga saat ini penurunan omzet penjualan mencapai 80 persen. “Kalau cerita, saya nangis. Penjualan menurun 80 persen. Pemasukan dari jual belalang tidak ada, sudah anjlok,” katanya saat dihubungi melalui telepon pada Rabu (6/5).

Perempuan yang memiliki nama asli Sri Lestari ini mengatakan pada masa awal Ramadan biasanya ia stok belalang matang sebanyak 30 kilogram. Sebelum memasuki lebaran pun dagangan stoknya sudah habis. “Tapi Ramadan tahun ini satu minggu untuk jual satu atau dua kilogram belalang saja tidak laku,” katanya.  

Kemudian saat memasuki H-1 atau H-2 lebaran, biasanya ia bisa mendapatkan Rp6 sampai 8 juta per harinya dari berjualan. Namun ia memprediksi momen tersebut juga nantinya tak akan ramai pembeli. “Selain belalang, saya biasanya juga stok bekicot. Ramadan tahun lalu stok 200 kilogram bekicot, dan sudah habis sebelum lebaran,” katanya.

Sri mengungkapkan selama pandemi Covid-19 ini dirinya pun belum mendapatkan bantuan apapun dari berbagai pihak, terutama pemerintah. Karena itu, ia menggenjot penjualan lainnya supaya tetap ada pemasukan ekonomi bagi keluarga. “Saya belum dapat bantuan selama ini,” katanya.

Penjualan yang digenjotnya yakni masakan jenis bekicot. Ia mengaku sering ada  permintaan dari konsumen di Jakarta untuk jenis makanan ini.  

“Konsumennya orang asli Gunungkidul yang merantau di Jakarta. Jadi karena mereka tidak bisa mudik, pesan minta dikirim ke sana. Kalau biasanya saat jelang lebaran mereka pulang dan langsung datang ke rumah untuk membelinya,” ucapnya.

Sri mengatakan permintaan konsumen dari Jakarta untuk masakan bekicot itu memang dialami berbeda dengan belalang. “Karena belalang saat ini sedang musimnya. Di jakarta juga banyak belalang,” ujarnya.

Setiap harinya ia bisa mendapatkan order satu sampai dua kilogram bekicot matang dikirim ke Jakarta.  Untuk harganya per kilogram sebesar Rp90 ribu. “Biasanya Rp100 ribu, tapi saat ini saya turunkan menjadi Rp90 ribu,” katanya.

Selainj bekicot, saat ini ia juga menjual masakan ayam di kampungnya. Seperti kepala ayam dan juga usus yang ia dapat dari pabrik pemotongan ayam di dekat rumahnya. “Saya juga jualan ayam di pasar kalau pagi,” ucapnya.(rid/rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *