Pengusaha Malioboro Berencana Sowan Sultan Minggu Depan

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Para pemilik toko sepanjang Malioboro dan jalan Ahmad Yani yang tergabung di Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani (PPMAY) berencana sowan bareng ke Gubernur Sultan Hamengku Buwono X pada Selasa (10/11) depan. Mereka meminta ada toleransi Malioboro dibukan untuk kendaraan bermotor dan ditutup sore hingga malam saja.

Ketua PPMAY Sadana Mulyono pada Jumat petang (6/11), anggota telah sepakat membawa usulan agar Malioboro tetap dibuka untuk kendaraan bermotor dan hanya ditutup empat jam saja dari pukul 18.00-22.00 WIB.

“Soal uji coba di Malioboro yang sudah menjadi ikon Yogyakarta, kami merasa perlu ada tindak lanjut dari pengambil kebijakan dengan memberikan sedikit toleransi kepada kami, kalangan pengusaha,” kata Sudana.

Hal ini didasarkan pada fakta, selama tiga hari penutupan total Malioboro dari kendaraan bermotor omzet para pemilik toko, pedagang kaki lima, pengasong sampai pasar Beringharjo turun 80 persen dibandingkan sebelumnya.

Bahkan PPMAY mendapatkan laporan salah satu anggotanya selama tiga hari ini tidak mendapatkan pembeli sama sekali, padahal ada karyawan yang harus digaji.

“Penutupan empat jam ini kami kira sudah memenuhi kriteria untuk diajukan sebagai World Heritage ke Unesco. Pasalnya jika ditutup penuh seharian dan susahnya akses masuk, dipastikan Malioboro akan sepi pengunjung,” lanjutnya.

Dengan sepinya pengunjung, karena sulitnya akses, maka Malioboro sebagai ikon Yogyakarta akan rusak di mata dunia karena ditinggalkan pengunjung. Sepinya pengunjung tentu berdampak nyata pada keuntungan bagi pelaku pengusaha.

“Kami hanya ingin berdialog dan diberi kesempatan mengusulkan ide ke pembuat kebijakan. Selama ini kami tidak pernah didengar. Jika ide kami tidak diterima, kedepan paling simple adalah menutup toko,” tegas Sudana.

Koordinator lapangan PPMAY Karyanto Yudomulyono mengatakan bila toko di Malioboro tutup, diperkirakan 10 ribu orang akan kehilangan pekerjaan.

“Sebagai pembayar pajak, kami cuma ingin berdialog dengan pembuat kebijakan. Kami hanya minta diberi nafas dan toleransi supaya bisa hidup bersama di Malioboro,” katanya.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *