Penutupan Tak Ingin Terulang, DPRD Desak Optimalkan Bank Sampah

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Ketua Komisi C DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta Gimmy Rusdin meminta pengoptimalan keberadaan bank-bank sampah dalam penanganan persampahan.

Kondisi ini sebagai upaya tidak terulangnya penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

“Saya sudah menjadi anggota Komisi C selama dua belas tahun. Persoalan Piyungan terus berulang dan terkesan tidak ada langkah dari pemerintah khususnya dinas terkait,” kata Gimmy saat konferensi pers Senin (23/5).

Kasus penutupan yang kemarin terjadi, menurut Gimmy seharusnya tidak terjadi jika sejak awal dinas fokus pada sistem pengelolaan sampah yang tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat.

Dua dinas yang berkepentingan yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Pekerjaan Umum, bagi Gimmy harus terus melakukan koordinasi untuk memperpanjang usia penampungan seperti yang sudah disepakati antara warga Piyungan, Bantul dan Gubernur.

“Komisi C DPRD dan Gubernur Sultan Hamengku Buwono X, selama ini sudah sepakat bahwa pengelolaan sampah harus progresif. Cuma dibawah-bawahnya, yaitu dinas kami menilai tidak betul-betul serius menangani,” lanjut Gimmy.

Selain diminta menerapkan teknologi terbarukan dalam pengelolaan sampah di TPST Piyungan. Gimmy juga menyoroti lemahnya dukungan terhadap keberadaan bank sampah yang jumlahnya ratusan di DIY.

Berbeda dengan daerah lainnya, Komisi C pernah melihat kesuksesan bank sampah di Malang, Jawa Timur. Gimmy mengatakan tidak adanya peranan pemerintah pada pengoptimalan pemilahan, pemanfaatan, dan pendaur ulangan sampah di tingkat bawah menjadikan bank sampah mati.

“Di Sleman, dari 24 bank sampah yang ada. Hanya 10 yang bisa bertahan. sisanya tidak ada kabar. Seharusnya, entah melalui APBD atau Danais, keberadaan bank sampah bisa dioptimalkan fungsinya,” lanjut anggota Fraksi PDIP ini.

Dirinya mendukung adanya program perluasan bank sampah di Kabupaten/Kota DIY. Melalui pendanaan, bisa dibuat dibuat 10 bank sampah sebagai percontohan bagi daerah lain.

Kepala Balai Pengelolaan Sampah DLH DIY, Jito, menegaskan permasalahan sampah di DIY ini selain karena minimnya akses warga membuang sampah. Juga karena minimnya kesadaran warga memilah sampah.

Bahkan keberadaan 700-an bank sampah di DIY hanya sekitar 0,6-1 persen unit yang aktif dan efektif mengolah sampah.

“Sisanya didominasi bank sampah yang fokus memilah sampah bernilai ekonomi tinggi seperti kardus dan botol air mineral. Yang tidak bernilai, seperti tas kresek, tidak dipedulikan,” jelasnya. (Set)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *