Sakapari Seri ke-Tujuh: Lestarikan Heritage dan Harus Bermanfaat Sosial Ekonomi

by

Sleman, Koran Jogja – Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar Seminar Karya & Pameran Arsitektur Indonesia (Sakapari) 7  in Collaboration with Laboratory of Form and Place Making dengan tema Heritage Management in the Time of Crisis pada Sabtu (20/2) secara virtual.

Ketua Jurusan Arsitektur UII, Prof. Noor Cholis Idham, Ph.D., IAI mengatakan, Sakapari seri ke-7 ini merupakan ajang civitas akademika khususnya di lingkup arsitektur untuk dapat menyajikan karya-karya dalam satu semester.

“Sebagai kita ketahui bersama Covid-19 telah mengubah sendi-sendi kehidupan kita. Termasuk heritage sebagai warisan budaya atau cagar budaya yang kita punya dari sesepuh pendahulu kita, kepada kita maupun anak cucu kita,” katanya, Sabtu (20/2).

Menurut Noor,  heritage atau cagar budaya harus dilestarikan. Tidak hanya benda museum yang hanya dipertahankan keasliannya.

“Tapi juga harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sosial dan ekonomi dimana heritage itu berada dan juga harus dapat dilimpahkan kepada generasi kita selanjutnya. Agar mereka juga mendapatkan manfaat dari heritage yang ditinggalkan dari sesepuh kita,” katanya.

Dalam Sakapari seri ke tujuh tersebut, hadir sebagai pembicara Prof. Antariksa (Guru Besar Universitas Brawijaya) dan sejumlah pakar. Seperti Prof. Arif Budi Sholihah ST., M.Sc., Ph.D. (Universitas Islam Indonesia) dan Prof. Dr.-Ing. Putu Ayu S.T., M.A. (Universitas Islam Indonesia). Ajang kali ini dikuti oleh 114  penyaji makalah dan puluhan peserta lainnya.

Noor mengatakan, soal menyikapi pengelolaan heritage di era krisis ini, keberadaan warisan budaya itu musti dijaga agar tetap bisa sebesar-besarnya kemakmuran dan kelangsungan hidup hajat hidup orang banyak bangsa ini.

“Tampaknya tidak terlalu berlebihan karena kita Insan Arsitektur harus bertanggungjawab khususnya UI yang sudah meneguhkan diri sebagai insan arsitektur rahmatan lil alamin, yang wajib bisa menjaga semua heritage untuk kepentingan bersama,” ucapnya.

Prof Antariksa dalam kesempatan di acara tersebut menjawab sejumlah pertanyaan soal penanganan heritage di masa krisis. Seperti pertanyaan ketika ada benda cagar budaya seperti Benteng Vredeburg atau bahkan Monas tiba-tiba hancur karena suatu krisis, apakah kemudian bisa dibangun atau direkonstruksi kembali demi pelestariannya.

“Adaptasi bisa menyesuaikan fungsi yang baru. Tapi pelestarian itu bukan mengubah, memperindah atau mempercantik suatu bangunan heritage,” katanya.

Menurut Antariksa, jika bangunan heritage itu sudah hancur kemungkinan besar tidak bisa direkonstruksi kembali. Karena bahannya dan struktur bangunannya sudah berubah. “Kalau kita perhatikan banyak beberapa candi di Indonesia itu banyak yang tidak direkonstruksi karena data historis dan data arsitekturnya tidak ada, sehingga mereka tidak berani,” ucapnya.

Kalau rekonstruksi nekat dilakukan itu akan menyalahi sejumlah hal. Seperti untuk pendidikan arkeologi, pendidikan sejarah dan pelestarian. “Sebuah heritage bisa memiliki fungsi baru, namun bukan bentuk baru, penambahan bangunan tidak boleh mengganggu bentuk aslinya,” katanya.

Dekan Fakultas Teknik UII Miftahul Fauziah, ST., MT., Ph.D mengatakan di era kemajuan teknologi saat ini, terlebih sedang masa krisis akibat pandemi maka bukan turis yang datang ke Indonesia menikmati heritage yang ada.

“Salah satu pelestarian dan pemanfaatannya bukan membawa orang datang ke heritage tersebut tetapi cagar budaya nya yang di bawa kepada mereka dengan kemajuan teknologi secara virtual,” ucapnya.(rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *