Sempat Terhenti, PKS Gelar Lomba Baca Kitab Kuning Lagi

by

 

Yogyakarta, Koran Jogja – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar lomba membaca kitab kuning yang sempat terhenti karena pemilu 2019. Ditengah pandemi Covid-19, antusiasme peserta tidak berkurang dari gelaran sebelumnya.

Ketua Bidang Pembinaan Umat (BPU) PKS DIY mewakili panitia, Agus Effendi, mengatakan lomba baca kitab kuning yang berlangsung pada Minggu (29/11) ini adalah yang keempat kalinya sejak pertama kali diselenggarakan di 2016.

“Tahun lalu, dari pusat mengumumkan tidak menggelar lomba karena fokus pemilu. Dilaksanakan mendadak, tahun ini tercatat sembilan peserta putri dan 17 peserta putra berlomba menjadi terbaik guna mewakili DIY di tingkat nasional,” kata Agus di Kantor DPW PKS DIY, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Digelar dengan protokol ketat, dari total 28 peserta yang terdaftar. Agus menyatakan dari hasil rapid tes wajib, dua dinyatakan reaktif dan PKS meminta keduanya melakukan tes swab serta mengisolasi diri.

Meski di tengah pandemi, Agus melihat antusiasme peserta tidak kalah dibandingkan tiga penyelenggara sebelumnya. Pada gelaran pertama 2016 tercatat 24 peserta, kemudian naik menjadi 30-an peserta di tahun ke dua dan terakhir menjadi 46.

“Lingkungan pondok pesantren yang mengirimkan santrinya juga bertambah. Jika awalnya hanya dari ponpes NU, sekarang ponpes Muhammadiyah dan universitas turut mengirimkan perwakilan,” katanya.

Menyediakan total hadiah uang tunai Rp7,5 juta untuk tiga terbaik, DPW PKS DIY mengirimkan yang terbaik menjadi wakil di lomba baca kitab kuning tingkat nasional yang akan diselenggarakan secara virtual pada 22 Desember.

“Untuk dua peserta yang hasilnya reaktif, kita tidak menghilangkan haknya sebagai peserta. Kita akan memfasilitasi mengikuti lomba secara online, pasca semua peserta di lokasi selesai,” jelasnya.

Wakil Ketua DPW PKS DIY, Agus Mashudi, menjelaskan tujuan lomba baca kita kuning ini secara khusus adalah menjaga marwah tradisi keilmuan yang kuat.

“Kita kuning itu adalah kita yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk bisa memahami isinya. Alhasil, juara yang dilahirkan dari lomba ini adalah orang pinter semua,” katanya.

Dalam lomba, penilaian tiap peserta tidak hanya didasarkan pada cara membaca yang benar serta aplikasi surat yang dibaca dengan konteks kekinian. Namun juga sisi penampilan peserta menjadi nilai tambah.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *