Sulastri, Perajin Terakhir Minyak Kelapa Di Bantul

by

Bantul, Koran Jogja – Berjaya dan menjadi sentra produksi minyak kelapa di Bantul. Perlahan-lahan namun pasti, pembuatnya menghilang dan hanya menyisakan satu orang.

RT 123 Dusun Mangiran, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan era 1990-an dikenal sebagai pusatnya produksi minyak kelapa. Dulu ada puluhan rumah tangga yang setiap hari memproduksi komoditas yang dikenal dengan virgin coconut oil (VCO).

“Namun sekarang hanya tinggal tersisa saya saja yang memproduksi. Lainnya tutup karena tidak ada penerus,” kata Sulastri (63) saat ditemui Rabu (9/3).

Dibantu empat pekerja, Sulastri memproduksi minyak kelapa rata-rata per hari lebih dari 45 liter. Ini belum dengan produk turunnya yang disebut Kethak. Camilan yang terbuat dari ampas sisa pembuatan minyak yang mencapai 10 Kg.

Mendatangkan kelapa dari Purworejo, Kebumen dan beberapa daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap minggunya Sulastri membutuhkan lima ribu butir kelapa dengan harga beli Rp3.000,-.

Untuk setiap 500 butir kelapa, Sulastri mampu menghasilkan 45 liter minyak kelapa murni. Ini belum dengan penjualan batok kelapa untuk kerajinan tangan yang dihargai Rp600-2000 per buah. Tergantung besar kecilnya lubang.

“Per liter minyak kelapa murni saya jual Rp22 ribu. Saat ini produksi saya sudah diambil pabrik pengemasan di Purworejo dan Sleman,” katanya.

Di pabrik ini, minyak hasil produksinya dijernihkan kemudian dikemas dalam botol menarik dan menjadikan harganya naik Rp28.000 per liter. Sedangkan ampas hasil penjernihan menjadi bahan sabu.

“Kethak saya jual per sebelas butirnya Rp10 ribu dan semuanya diambil pedagang di pasar Bantul dan Kota. 10 Kg bahan menjadi 500 butir Kethak yang dikemas kecil,” lanjutnya.

Di tengah langka dan mahalnya minyak goreng, Sulastri tidak lantas mengambil kesempatan. Baginya jumlah produksi harian ini sudah mencukupi.

Dirinya bercerita, jika dulu ingin mengejar uang dirinya akan menerima tawaran dari pembeli luar negeri yang membutuhkan minyak kelapa satu kontainer per hari. Namun itu tidak diambilnya.

Baginya, yang menjadi kerisauan adalah mengenai siapa yang nanti meneruskan usaha yang dibangun sejak 1980-an ini. Anak lelakinya enggan turun tangan meneruskan estafet usaha keluarga.

“Orang-orang sini sudah tidak ada yang memproduksi lagi, padahal saya mau mengajari sampai bisa,” katanya. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *