Selasa, 27 Januari 2026
Koran Jogja

Menggandeng Fatayat NU, BPIP Membumikan Pancasila Lewat Perempuan

 

Yogyakarta, Koran Jogja – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggandeng Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk semakin membumikan nilai-nilai Pancasila. BPIP percaya, lewat berbagai peran perempuan, Pancasila akan lebih dihayati dan dipahami masyarakat.

Kerjasama antara BPIP dan Fatayat NU DIY ditandatangani pada Sabtu (10/9) oleh Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso dan Ketua PW Fatayat Maryam Fithriati.

Dalam sambutannya, Prakoso mengatakan Fatayat NU menjadi mitra BPIP dalam pembumian Pancasila karena dinilai kalangan perempuan memiliki peran penting di semua level baik mikro, meso, maupun makro.

“Sinergi dan kepemilikan bersama asas Pancasila akan memperkaya wacana dalam pembumian Ideologi Pancasila kepada masyarakat, khususnya kaum Nahdliyin. Kerjasama ini ingin menampilkan praktik baik bagaimana Ideologi Pancasila diaktualisasikan oleh berbagai faktor masyarakat,” jelasnya.

Dirinya mengatakan dengan kondisi ini, Pancasila bukan ideologi yang mandek. Melainkan menjadi ideologi relevan dalam penguatan Indonesia atau ‘living ideologi’ hingga masa yang akan datang. Pancasila juga menjadi pemersatu, bintang penuntun kemana bangsa ini akan dibentuk menjadi adil dan makmur.

Prakoso menjelaskan peran perempuan sangat penting, bisa dilihat dari perannya sebagai ibu.

“Ibu adalah sekolah yang pertama, dimana mendidik anak dari kandungan sampai nanti,” imbuhnya.

Pada level meso, perempuan memiliki peran sosial, bukan hanya sebagai individu, perempuan juga terlibat dalam perubahan sosial. Peran penting perempuan juga sebagai manajer sosial antara keluarga dengan masyarakat di sekitarnya dan bangsa ini, yang pada akhirnya perempuan berperan sebagai penghubung budaya.

Pada level makro, banyak keterlibatan perempuan dalam dunia politik.

“Ruang-ruang perempuan semakin meluas dibuktikan dengan adanya presiden ke-5 perempuan yakni Megawati Sukarno Putri, dan masih banyak lagi peran perempuan-perempuan dalam pembangunan,” katanya.

Menurutnya, kerjasama dengan Fatayat NU, sebagai ormas perempuan yang memiliki jaringan hingga akar rumput merupakan langkah strategis membumikan Pancasila.

Ketua Fatayat Maryam Fithriati menyebut kegiatan ini menjadi momen penting karena bertepatan dengan rapat kerja yang akan menentukan kegiatan Fatayat NU lima tahun kedepan.

“Kegiatan ini tentunya mempunyai fungsi internalisasi ideologi Pancasila. Kami berharap, Pancasila bukan hanya jargon dan bukan hanya tulisan pada buku anak-anak, tapi juga internalisasi kehidupan perempuan dan anak. Karena perempuan menjadi tonggak pembangunan,” jelasnya.

Alumni Flinders University ini juga menyampaikan bahwa Fatayat NU pada empat tahun kedepan akan membentuk 100% ranting di setiap desa. Fatayat NU DIY bisa menjadi duta Pancasila dengan mengajak seluruh struktur nasional hingga tingkat desa. Maka Pancasila sebagai laku dan nilai sehari-hari bisa direalisasikan dengan mudah.

Wakil Ketua PWNU DIY Kiai Mashuri, menyampaikan kebangganan terhadap kegiatan ini. Beliau juga berharap dalam melaksanakan program-program kedepan.

“Kita akan memasuki 1 abad nahdlatul ulama. Ketika 100 tahun ada sebuah teori yang merumuskan bahwa organisasi akan menjadi hebat atau tenggelam, maju atau terpuruk dilihat dari siklus 100 tahun,” jelasnya. (Set)

Leave a Reply