Sleman, Koran Jogja – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja resmi memulai proyek monumental penelitian dan tahqiq (penyuntingan kritis) terhadap manuskrip kitab Fiqh al-Zakat karya ulama nusantara terkemuka, Syaikh Nawawi Yahya Abdul Razak Majene.
Upaya pelestarian dan pengkajian warisan keilmuan Islam ini mendapatkan dukungan penuh dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia.
Langkah perdana proyek ini ditandai dengan penyelenggaraan seminar bertajuk ‘Menghidupkan Warisan Keilmuan Nusantara’ di Kampus UNU Jogja, Sabtu (22/11).
Pelaksana Harian Rektor UNU Jogja, Suhadi Cholil, menjelaskan bahwa inisiatif untuk meneliti kitab ini muncul setelah kunjungan Prof. Alwi Shihab ke kampus tersebut beberapa waktu lalu.
“Kitab Fiqh al-Zakat merupakan karya monumental Syaikh Nawawi Yahya Abdul Razak Majene, seorang ulama Indonesia lulusan Universitas Al-Azhar. Karya yang ditulis pada tahun 1980-an ini mengulas lengkap tentang zakat sedikitnya dalam 10 jilid atau sekitar 6.000 halaman berbahasa Arab,” papar Suhadi.
Karya ini diakui sebagai salah satu telaah paling komprehensif tentang fikih zakat yang pernah ditulis oleh sarjana Asia Tenggara. Namun, kondisi manuskripnya kini sangat rapuh, beberapa jilid tidak lengkap, rusak, dan sebagian besar sulit terbaca bahkan dalam versi digital.
Suhadi menyoroti relevansi kitab ini untuk konteks Indonesia modern, khususnya bagi BAZNAS. Melalui manuskrip ini, Kiai Nawawi memaparkan zakat dalam kaitannya dengan tatanan sosial modern.
“Selama ini hukum-hukum zakat mengacu pada kitab klasik yang belum ada panduannya secara spesifik untuk kondisi saat ini, sehingga kitab ini menjadi sumbangan sangat berarti untuk pelaksanaan zakat di Indonesia,” ujarnya.
Proses penelitian akan melibatkan 10 penyalin, 10 penahqiq, 10 peneliti, dan 10 penerjemah. Kitab tersebut akan disalin, dikaji, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dimulai dengan Fokus Group Discussion (FGD) dalam waktu dekat.
“Ke depan, alangkah lebih baik juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” tambah Suhadi.
Ketua BAZNAS RI, Noor Ahmad, menyatakan kebanggaannya atas dedikasi akademik UNU Jogja dalam riset ini. Noor menekankan pentingnya sumbangsih pemikiran Syaikh Nawawi untuk mengelola potensi zakat nasional yang mencapai Rp327 triliun, serta potensi sedekah keseluruhan umat Islam yang menembus Rp1.257 triliun.
“Kalau semua umat Islam membayar zakat, seluruh umat akan terbantu dan berbagai urusan umat dapat diselesaikan oleh umat sendiri,” ucap Noor.
BAZNAS RI menyatakan semangat penuh untuk mendukung penelitian ini dan mensosialisasikan pemikiran Syaikh Nawawi tentang zakat.
Seminar ini turut menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka, antara lain Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla, pakar filologi Islam Prof. Oman Fathurrahman, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan, dan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono.
Gus Ulil, sapaan akrab KH Ulil Abshar Abdalla, mengemukakan keunikan karya Syaikh Nawawi Majene. Menurutnya, jarang ada ulama yang mengulas satu isu fikih secara spesifik dan mendalam.
“Pembahasan tema fikih dalam suatu isu tertentu sangat jarang. Karya Syaikh Nawawi Majene ini tergolong langka. Keunggulannya adalah kedalamannya. Ini luar biasa,” pungkas Gus Ulil. (Set)
