Koran Jogja – Pernah mengalami atau melihat ada yang memperoleh nilai ujian 5 lebih rendah dari yang diharapkan atau mendapat tawaran pekerjeaan berminggu-minggu setelah teman lain mendapatkannya?
Kesimpulan termudah adalah mereka lebih beruntung daripada kita. Keyakinan ini lambatlaun bisa mulai mendominasi.
Kemudian membentuk proses berpkir sampai mengendalikan diri. ‘aku tidak cukup beruntung.’
Tetapi pernah kah bertanya-tanya, mereka yang mudah memperoleh label beruntung itu, apa yang mereka lakukan? Faktanya keberuntungan itu jarang murni kebetulan. Tetapi lebih sering pada kebiasaan halus, perubahan pola pikir, hingga cara pandang.
Dilansir dari times of India, berikut sejumlah perbedaan pola pikir yang sering membuat seseorang dijuluki beruntung.
Mereka memaksimalkan peluang
Tak jarang peluang itu tersembunyi momen sehari-hari. Entah melalui bicara dengan orang asing, mencoba hobi yang tak familiar, atau menjelajahi tempat yang belum pernah dikunjungi.
Sejumlah hal itu bisa menimbulkan lebih banyak pertemuan tak terduga, yakni bahan mentah dari keberuntungan.
Psikolog menjelaskan ini sebagai jejaring dan keterbukaan. Keduanya terbukti meningkatkan peluang.
Orang-orang yang beruntung mengumpulkan berbagai kemungkinan. Bahkan pembicaraan Santai di kedai kopi bisa berubah menjadi karier atau prospek pribadi yang gemilang.
Bagi mereka, hidup itu permainan angka. Semakin berani tampil di depan umum, semakin banyak peluang terbuka.
Mereka memercayai intuisi
Firasat itu bukan sihir. Namun cara otak memproses pola dengan cepat berdasar pengalaman masa lalu.
Orang yang mendengarkan insting dan bertindak, sering mendapat peluang baru. Sains pun menjelaskan mengenai kompetensi bawah sadar.
Alam bawah sadar ini akan menangkap isyarat yang terlewatkan oleh pikiran sadar yang dimiliki.
Mereka mengubah nasib buruk menjadi baik
Tertinggal penerbangan bisa berarti bertemu seseorang luar biasa di kafe bandara atau kehilangan pekerjaan bisa jadi dorong menuju karier impian.
Namun berapa banyak dari kita yang punya pola pikir seperti itu? Naluri kita sering menyatakan, ‘saya kurang beruntung’ atau ‘kenapa selalu terjadi pada saya?’
Orang beruntung melihat kemunduran sebagai fondasi untuk sesuatu yang lebih baik. Trik mental ini tak hanya menghapus kekecewaan.
Namun jugan mengubah energi negatif menjadi motiovasi. Orang yang beruntung percaya, pintu yang tertutup akan membimbing ke tempat yang berharga.
Mereka tidak menganggap diri mereka terlalu serius.
Charlie Challin menyebut, “Sehari tanpa tawa adalah hari yang terbuang sia-sia.” Menanggapi diri sendiri dengan serius pasti dapat membantu Anda di ruang ujian—tetapi tidak selalu dalam ujian kehidupan.
Humor meringankan rasa sakit akibat kegagalan dan menjaga pintu pergaulan tetap terbuka. Orang-orang yang beruntung menertawakan kesalahan-kesalahan kecil.
Ini yang membuat orang lain merasa nyaman di sekitar mereka, alih-alih menyimpan dendam atau merasa ‘depresi’ atas setiap kesalahan kecil. (*)
Baca artikel lainnya:
