Yogyakarta, Koran Jogja – Rendahnya indeks literasi dan inklusi keuangan syariah dinilai menjadi tantangan terbesar perkembangan industri asuransi jiwa syariah di Indonesia.
Menghadapi hal ini, PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah), menghadirkan program Sharia Knowledge Centre (SKC) tepat di peringatan milad pertamanya pada 5 April kemarin.
“Salah satu tantangan dalam mengembangkan asuransi jiwa Syariah adalah rendahnya indeks literasi dan inklusi keuangan Syariah. Dimana akhir 2022 tercatat indeks literasi hanya mencapai 9,14 persen dan 12,12 untuk inklusi keuangan syariah,” jelas Presiden Direktur Prudential Syariah Omar S. Anwar dalam rilis Kamis (6/4).
Angka ini sangat rendah bila dibandingkan dengan capaian indeks literasi dan inklusi keuangan umum masyarakat Indonesia di periode yang sama, mencapai 49,68 persen dan 85,10 persen.
Tantangan ini mendorong Prudential Syariah meluncurkan program SKC yang berfokus pada pilar informasi, literasi, inovasi, dan kolaborasi. Dalam pengembangan program ini, menurut Omar ada tiga strategi yang ditempuh pihaknya.
Pertama yaitu digitalisasi. Program SKC di laman www.shariaknowledgecentre.id, tidak hanya sekedar untuk meningkatkan literasi keuangan Syariah. Namun juga menjadi wadah kolaborasi antar para pemangku kepentingan termasuk institusi pendidikan yang sudah menjadi partner seperti, KNEKS, IPB University, dan UIN Imam Bonjol Padang.
Strategi kedua adalah kolaborasi. Saat ini Prudential Syariah telah berkolaborasi dengan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) dalam memprakarsai Cetak Biru Asuransi Jiwa Syariah dan menjalin kemitraan strategis dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Terakhir adalah Inovasi, Prudential Syariah memiliki produk-produk unggulan yang sesuai dengan kebutuhan finansial masing-masing peserta di dalam setiap tahapan kehidupan mereka, seperti PRUCinta dan PRUCerah.
“Kami juga telah meluncurkan produk terbaru di 2022 yaitu PRUSolusi Sehat Plus Pro Syariah, dan PRUSolusi Kondisi Kritis Syariah. Dimana kami juga menyediakan produk dengan kontribusi terjangkau mulai dari Rp8.000/bulan melalui PRUTect Care dan dapat diunduh melalui aplikasi Pulse,” lanjutnya.
Menurutnya, seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap asuransi jiwa Syariah, Prudential Syariah semakin fokus menggarap segmen ini dengan dukungan program penguatan literasi di berbagai kota-kota besar.
Sementara, Head of Marketing, Customer and Corporate Communications Lailatul Mauliyah Zubaidah, mengatakan Prudential Syariah telah membayarkan klaim Rp1,7 triliun sepanjang 2022.
“Pembayaran klaim ini meliputi klaim manfaat kesehatan serta asuransi jiwa. Saat ini, kami telah memberikan akses perlindungan halal kepada lebih dari 530.000 peserta,” lanjutnya.
Sejak spin-off, Prudential Syariah membukukan total aset sebesar Rp 6,7 triliun dan mencatatkan risk-based capital (RBC) Dana Tabarru sebesar 249 persen.
Ini menandakan perusahaan memiliki kondisi keuangan yang sehat dengan angka RBC yang melebihi ketentuan minimal target yang ditetapkan oleh regulator.
Prudential Syariah menempati posisi pertama sebagai perusahaan asuransi jiwa Syariah dengan market share dana tabarru sebesar 39 persen, serta market share dari sisi aset sebesar 21 persen.
“Sepanjang 2022, Prudential Syariah berhasil menjadi brand asuransi jiwa Syariah yang dipilih dan dikenal masyarakat,” tutup Lailatul. (Set)
