Selasa, 27 Januari 2026
Koran Jogja

Sebagai Obor Penerang, Konfirmasi Menjadi Marwah Wartawan

 

Yogyakarta, Koran Jogja – Di era banjir informasi lewat media sosial (Medsos), wartawan harus tetap harus menjaga marwahnya dengan melakukan konfirmasi. Tanpa konfirmasi, wartawan akan kehilangan fakta dan turun kredibilitasnya.

“Banjir informasi menjadikan masyarakat tidak melek informasi karena bingung menentukan mana yang benar mana yang tidak. Semua versi muncul. Wartawan harus menjadi obor penerang bagi masyarakat,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Sabtu (19/3).

Paparan ini disampaikan Heroe saat membuka Karya Latih Wartawan (KLW) yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta.

KLW digelar sebagai syarat bagi 30 wartawan yang akan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) 30-31 Maret.

Heroe melihat tantangan yang dihadapi media massa saat ini adalah berlomba dengan kecepatan, eksklusifitas semakin berkurang.

“Pemberitaan online yang kejar masa tayang seperti makan kuaci. Disajikan satu persatu di waktu yang berbeda. Sehingga masyarakat tidak mendapatkan kedalaman dan manfaatnya berita,” jelasnya.

Karena itulah, di era ini wartawan harus melihat fakta jika tidak ingin terjebak. Wartawan boleh saja menggunakan atau memanfaatkan unggahan medsos sebagai bahan berita, tapi terlebih harus diverifikasi ke pengunggahnya.

Tanpa melakukan konfirmasi ke pengunggah berita, Hero memastikan kredibilitas wartawan bersangkutan turun derajat. Konformasi, verifikasi, dan cross cek data menurutnya adalah marwah dunia kewartawanan.

“Sekarang semua orang bisa menulis, memotret dan menayangkan semaunya. Di media massa yang terlembaga hal ini tidak bisa dilakukan. Fakta harus ditemukan dan disampaikan dengan benar, jika tidak maka pemberitaan akan ter framing,” kata Heroe yang sempat menjadi wartawan majalah Editor era 1900-an.

Baginya wartawan tidak boleh mengedepankan pendapat orang. Harus bisa membedakan fakta dan opini.

Jika sekarang wartawan bisa dipermainkan lewat omongan orang, maka pemberitaan yang disampaikan tidak menyentuh ‘daging’nya.

.Wartawan harus bisa menyajikan informasi yang menjadi pedoman realita yang terjadi di lingkungan. Dengan melihat kenyataan, wartawan tidak akan kehilangan orientasi.

Di medsos, setiap orang mampu membangun realisasi yang berbeda dengan kenyataan.

“Menjadi wartawan itu harus betul-betul menghayati dunia dan kehidupannya tidak ada jenuhnya. Karena akan selalu menemukan dan belajar banyak hal baru,” ucapnya.

Ketua PWI DIY periode 2020-2025 Hudono menerangkan KLW digelar sebagai syarat wajib bagi 30-an wartawan di DIY yang mengikuti Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) pada 30-31 Maret.

“Dua tujuan UKW, pertama untuk menstandarkan metode kerja rekan-rekan wartawan. Kedua sebagai syarat perekrutan anggota PWI DIY,” jelasnya.

Hudono mengatakan dengan bergabung dengan organisasi profesi, wartawan mampu merancang masa depan pers akan seperti apa.

Melalui diskusi dan membangun jaringan relasi, maka kekuatan menuju pers yang profesional dan independen semakin terbuka luas. (Set)

Leave a Reply