Koran Jogja – Investasi emas dulunya didominasi perhiasan, koin, hingga batangan. Konsep tersebut dengan cepat beralih ke ruang digital.
Konsep tersebut menawarkan kepada investor berupa keuntungan yang tinggi, tanpa perlu memegang emas fisik.
Kini investor yang memburu keuntungan resmi dibanding kepemilikan fisik pun mempunyai banyak pilihan.
Pilihan tersebut di antaranya ada emas digital, ETF emas, hingga reksa dana emas.
Sejumlah pilihan tersebut menawarkan likuiditas, penebusan yang gampang, hingga kemampuan untuk menanamkan investasi mulai Rp10 ribu.
Emas Digital
Emas digital ini menawarkan membeli maupun menjual emas secara online. Kemudian juga melacak harga pasar.
Istimewanya konsep ini membuat investor tak dikenai biaya pembuatan atau penyimpanan.
Sebagian platform pun menawarkan investor mengkonversi asetnya menjadi bentuk emas fisik kalau meinginkan.
Investor bisa melakukan transaksi 24 jam 7 hari. Kemudahan dan aksesibilitas emas digital menjadikannya pilihan yang semakin populer bagi investor perkotaan.
ETF Emas
Exchange-Traded Funds (ETF) emas memberikan eksposur terhadap emas fisik melalui pasar saham.
Disadur dari times of India, emas diperdagangkan seperti saham. Dana ini butuh rekening demat serta bisa bisa dibeli atau dijual pada jam-jam perdagangan pasar.
Chirag Muni seorang Direktur Eksekutif di Anand Rathi Wealth Limited mengatakan, ETF emas cocok dengan investor yang mencari eksppsur emas.
“Pilihan ini paling efisien. Sebab menghindari biaya besar yang meliputi emas fisik, seperti penyimpanan, penandaan, asuransi, biaya pembuatan, dan penyusutan,” katanya.
Ia menambahkan ETF emas menawarkan fleksibilitas yang lebih besar, likuiditas yang lebih tinggi, dan biaya pengeluaran minimal.
“Ini menjadikannya pilihan yang lebih efisien untuk alokasi kekayaan jangka panjang,” jelasnya.
Reksa Dana Emas
Reksa Dana Emas adalah berinvestasi secara tak langsung dalam emas melalui unit ETF emas.
Konsep ini memungkinkan para investor melakukan investasi sekaligus alias investaso berkala (SIP) sambil menghindari kepemilikan langsung logam mulia.
Investasi ini punya rasio biaya sedikit lebih tinggi dibandingkan ETF, sehingga pengembaliannya kemungkinan lebih rendah. (*)
