Ahmad Fikri menyatakan sangat aneh jika aksara Jawa tidak ditradisikan. “Kenapa kalau belajar gamelan, macapat, jathilan dan sesorah, orang mudah terpanggil dan mudah mendirikan sanggar. Kenapa tidak ada sanggar di Yogyakarta yang fokus pada aksara Jawa,” ujarnya.
Menurut dia, dengan adanya perda dan pergub harapannya akan menginsipirasi masyarakat untuk membentuk sanggar aksara Jawa, selanjutnya mulai lagi menggalakkan tradisi menulis dan membaca aksara Jawa.
Hakikat aksara Jawa itu bisa untuk menulis bahasa apa saja, yang penting pada zaman digital ini aksara Jawa nggak punah dan bisa untuk berkomunikasi,” jelasnya.
Baca juga: Prakiraan cuaca di Jogja pada Minggu 26 Maret Didominasi Hujan Ringan
Ahmad Fikri yang juga pegiat Kampung Aksara Pacibita ini menyatakan untuk masuk ke filosofi Jawa masyarakat perlu diberikan motivasi terlebih dulu, yaitu menguasai aksara Jawa beserta karakternya dan memahami betul tata tulisnya.
“Jika secara teknis mampu menguasai aksara Jawa maka begitu ngomong filosifisnya akan enak. Jika kita tidak bisa maca tulis aksara Jawa pasti tidak punya dasar selain dari ilmu rungon. Perlu ditambah dengan kemampuan maca tulis aksara Jawa, supaya yakin belajar dari serat-nya langsung,” pungkasnya. (*)
