Bersepeda di Jogja, Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

by

Yogyakarta – Bersepeda merupakan salah satu olahraga yang tengah popular di kalangan masyarakat Kota Yogyakarta. Selain bersifat rekreatif, bersepeda juga dinilai menjadi salah satu cara mudah dan murah untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah pandemi corona, namun demikian, kegiatan bersepeda harus diikuti oleh protokol kesehatan yang ketat.

“Olahraga seperti bersepeda masih diperlukan di masa pandemik untuk menjaga daya tahan tubuh, namun harus mengikuti protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak. Pilihlah masker yang nyaman dipakai dan berpori longgar. Jarak yang dianjurkan untuk bersepeda adalah 20 meter antar pesepeda” ujar Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi ketika ditemui di Ruang Sadewa, Komplek Balaikota, Jumat (12/6).

Lebih lanjut, Heroe juga meminta masyarakat yang berolahraga untuk memperhatikan intensitas olahraga. Intensitas yang dianjurkan adalah intensitas ringan dan sedang. Intensitas berat tidak disarankan karena jika menggunakan masker, olahraga dengan intensitas berat dapat menyebabkan pasokan oksigen tidak maksimal dan bisa berakibat fatal.

“Bersepeda cukup berkeliling klintong-klintong bukan dalam konteks sport yang berintensitas tinggi,” tambah Heroe.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Okto Heru Santosa selaku Kasi Pelayanan Kesehatan Khusus Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Menurut Okto, peseda perlu memperhatikan medan, jarak, rute, hingga durasi. Pemilihan medan sebaiknya tidak menanjak dan hanya bersepeda untuk tujuan santai.

“Berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), waktu ideal adalah antara 20-60 menit. Jika beristirahat, pastikan memilih tempat beristirahat yang jauh dari kerumunan,” imbuh Okto.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam bersepeda adalah memperhatikan prinsip progresif, yaitu melakukan pemasan sebelum olahraga dan pendinginan setelah olahraga, tidak saling meminjam fasilitas olahraga, menghindari menyentuh sarana umum, serta menghindari menyentuh area wajah saat berolahraga.

“Pastikan juga kondisi fit, ada beberapa kasus di mana orang kolaps saat berolahraga, kemungkinan diakibatkan karena saat itu kondisinya sedang tidak fit. Utamakan melakukan olahraga di pagi hari saat kadar oksigen lebih tinggi,” kata Okto.

Terkait olahraga di masa pandemi corona, berdasarkan data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, terdapat tiga risiko stratifikasi olahraga, yakni  risiko rendah, sedang dan tinggi. Risiko rendah adalah olahraga di rumah, baik sendiri atau dengan anggota keluarga dan menggunakan perlatan sendiri. Risiko sedang meliputi olahraga di tempat umum secara sendiri atau berkelompok tidak lebih dari lima orang dan menggunakan peralatan sendiri, sedang risiko tinggi adalah olahraga di tempat umum, berkelompok dengan orang lain yang bukan anggota keluarga dan menggunakan perlatan yang bergantian.

“Sangat dianjurkan untuk melakukan olahraga di rumah, namun jika di luar pastikan tetap menggunakan masker dan disiplin menerapkan protokol kesehatan,” pungkas Okto.(rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *