Selasa, 27 Januari 2026
Koran Jogja

Fenomena Pura-pura Kerja atau Ghostworking, Apa Itu?

Cara Membangun Hubungan yang Kuat dengan Bos di Kantor. (pixabay)
Cara Membangun Hubungan yang Kuat dengan Bos di Kantor. (pixabay)

Koran Jogja – Karyawan pura-pura kerja atau ghostworking semakin menjadi tren dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, karena kelelahan dan kurangnya job yang berarti.

Dalam survei terbaru menyebut pekerja yang pura-pura kerja ini mengaku didorong karena sejumlah faktor. Seperti manajemen mikro dan ekspektasi yang tak jelas.

Pada survei yang dilakukan Resume Now menemukan ada sebesar 58 persen karyawan memalsukan produktivitasnya.

Banyak dari mereka bahkan diketahui memakai waktu perusahaan untuk mencari pekerjaan lainnya.

Pada survei itu juga mengungkap sejumlah wawasan menarik mengenai kehidupamn kerja para karyawan yang membosankan.

Mereka juga tidak merasa puas terkait kehidupan kerjanya, sehingga bergulat dengan moral yang menurun.

Semakin banyak karyawan yang melakukan rapat palsu, mengetik kata-kata acak, atau memperlihatkan kesibukan dangkal lainnya.

Hal tersebut mungkin terlihat seperti menghindari tanggung jawab. Namun ini lebih dalam, tidak hanya ketidakterikatan.

Namun juga kekecewaan yang berkembang. Terutama pada kalangan Gen Z dengan struktur kerja yang kuno.

Para ahli menyebut kelelahan, ketidakpastian karier, dan kerja jarak jauh yang mengaburkan batasan, akan semakin membuat karyawan mengeksplorasi peluang baru pada waktu kerja.

Dilansir dari times, of India, survei yang mencakup tanggapan dari 1.100 pekerja AS, mengidentifikasi sejumlah faktor di balik ghostworking:.

Faktor tersebut di antaranya tekanan kantor, manajemen mikro, kurang job yang berarti, dan ekspektasi pekerjaan yang tak jelas.

Supaya bisa meyakinkan manajer mereka, para karyawan ini bekerja keras, 23 persen pura-pura kerja di sekitar kantor dengan buku catatan.

Kemudian 23 persen mengetik omong kosong di keyboard untuk menstimulasi produktivitas. Lalu 15 persen pura-pura menelepon.

Sementara itu 15 persen lainnya membiarkan spreadsgeet terbuka sambil berjelasah internet yang tidak terkait.

Hal yang menarik yakni 12 persen menjadwalkan rapat palsu untuk menghindari pekerjaan yang sebenarnya.

Temuan lainnya yakni 24 persen responde mengedit resume di kantor, 23 persen melamar pekerjaan baru memakai komputer kantor. Dan hampir 20 persen menerima panggilan perekrut saat jam kerja.

Lalu ada 19 persen yang keluar dari bilik kerja untuk hadir dalam wawancara kerja di perusahaan lain.

Para peneliti menawarkan rekomendasi tapi cukup ampuh untuk pemberi kerja, yakni menyeimbangkan akuntabilitas dengan otonomi.

Para karyawan bisa diberikan perangkat dan kepercayaan yang dibutuhkan untuk bisa benar-benar produktif, tidak hanya terlihat sibuk. (*)

Baca artikel lainya:

Leave a Reply