Hasto Wardoyo Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa

by

Sleman – Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mendapatkan Gelar Doktor Honoris Causa pada bidang Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat Vokasional dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu (1/8). Ia dianggap memounyai peran strategis dalam mengaplikasikan pengetahuan, data, sains, dan teknologi sebagai dasar dalam pembangunan.

Rektor UNY, Sutrisna Wibawa mengatakan mantan bupati Kulon Progo itu dinilai mampu menyinergikan bidang akademik vokasional dan pemberdayaan masyarakat.

Sutrisna berkata UNY sudah sejak lama memantau kiprah Hasto selama memimpin di Kulon Progo. Beberapa kebijakannya saat itu ada keterkaitan antara pendidikan vokasi dan ekonomi kerakyatan.

“Inovasi-inovasi yang dilakukan Hasto merupakan realisasi dari ekonomi Pancasila. Dimana kedaulatan ekonomi dan vokasi ada di tangan rakyat Kulon Progo,” kata dia, Sabtu (1/8).

Sutrisna Wibawa mengatakan, Hasto memperkuat ketahanan ekonomi rakyat melalui sistem bersama yang transparan dan partisipatif. Yakni melalui program Bela dan Beli Kulon Progo. Kemudian ada Toko Milik Rakyat (Tomira) sebagai ikon warung kerakyatan di Kulon Progo difungsikan sebagai salah satu pintu masuk transformasi ekonomi mikro dan pendidikan vokasi.

“Pertimbangan demikianlah yang menarik atensi UNY untuk memberikan apresiasi akademik lewat doktor (HC),” ucapnya.

Hasto Wardoyo dalam orasi ilmiahnya mengatakan perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik untuk kesejahteraan rakyat juga harus dengan paradigma baru. Tidak cukup dengan inovasi pelayanan yang sekedar menjadi bagian dari normal sains akan tetapi harus dengan perubahan paradigma yang revolusioner, merubah mindset, merubah tatanan atau regulasi.

Menurut Bupati Kulon Progo periode 2011-2016 dan 2016-2019 tersebut, sejumlah langkah telah dijalankan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Kulon Progo diantaranya mewajibkan PNS membeli beras dari petani Kulon Progo sebanyak 10 kg/bulan.

Selain itu juga melakukan diversifikasi PDAM Kulon Progo dengan membuat air minum dalam kemasan “Air-Ku” karena melihat hampir semua kebutuhan masyarakat dalam setiap acara tidak merebus air sendiri melainkan membeli air minum dalam kemasan.

Selain itu dengan diciptakannya batik “Geblek Renteng” dapat membangkitkan industri batik Kulon Progo dengan pangsa pasar siswa sekolah yang berjumlah sekitar 82.000, PNS 6.000, guru swasta dan perangkat desa 5.800, yang secara rutin mengenakan seragam batik dua kali seminggu.

Di sisi lain ketrampilan membatik dianggap penting dan bisa menjadi harapan untuk kesejahteraan keluarga. Alhasil secara spontan tumbuh sekolah (SMK) dengan jurusan batik, tanpa harus diinisiasi oleh pemerintah.

Keterampilan membatik juga secara inklusif masuk di sekolah, hal ini terbukti dengan adanya sekolah pendidikan luar biasa (SLB) yang membuat produk batik unggulan hasil karya para siswa. Kepala BKKBN tersebut mengatakan pembangunan yang berkelanjutan harus dengan investasi besar dalam sumber daya manusia.

Pendidikan vokasi akan mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil, kompeten, berkarakter dan mumpuni. “Inilah urgensi pendidikan vokasi demi kemandirian Kulon Progo” kata Hasto Wardoyo.(rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *