Kisah Lasiyo, Pria Lumpuh di Gunungkidul Dapatkan Santunan dari Wanita Bermasker

by 3 months ago

Gunungkidul – Empat tahun telah berlalu, ujian berat dialami oleh Lasiyo, 45 tahun, warga RT 14 RW 03 Dusun Dawung, Kelurahan Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Ia mengalami kecelakaan kerja ketika melakukan perbaikan instalasi listrik di sebuah rumah yang ada di Kota Yogyakarta.

Peristiwa nahas tersebut membuat tangan kirinya diamputasi, sebagian tubuhnya tampak bekas lelehan, pun syaraf-syaraf otaknya tidak berfungsi secara baik. Sejak kejadian itu, Lasiyo tak lagi bisa bekerja untuk menafkahi anak dan istrinya.

Istri Lasiyo, Ny Sukati mengatakan suaminya tak sengaja memegang kabel listrik bertegangan tinggi cukup lama. Beruntung rekan kerjanya saat itu berhasil menolong dan langsung dibawa ke rumah sakit. “Itu terjadi tahun 2016 lalu saat bekerja,” katanya, Senin (13/7).

Selepas itu, Lasiyo sampai kini terbaring di atas tempat tidurnya. Lasiyo hanya bisa menatap langit-langit kamar dan sesekali berbicara sekedarnya.

Pada Senin (13/7) itu, keluarga Lasiyo menerima kunjungan dari Yuni Astuti yang dikenal sebagai wanita bermasker yang sering melakukan aksi sosialnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Datang bersama rombongan, bantuan berupa berbagai perabotan rumah tangga yang masih baru diberikan kepada keluarga Lasiyo.

Di antaranya seperti satu set meja tamu, kursi dan lain-lain. Juga ranjang tidur gres beserta bantal, guling maupun sprei. Selain itu pula segepok uang tunai diberikan kepada keluarga Lasiyo.

Saat menjenguk Lasiyo di kamarnya, Yuni Astuti terlihat terkejut. Bahkan air matanya tampak menetes dan sempat keluar dari kamar sebentar untuk menata perasaannya.

Wanita yang juga sebagai Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BPPP) DIY ini mengatakan keluarga Lasiyo tetap sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ini. Terutama kepada Sukati yang sehari-hari merawat Lasiyo. “Semangat ya. Lebih sabar ya merawat Bapak. Pahalanya kan juga untuk njenengan. Insya Allah,” katanya.

Sukati mengatakan suaminya sampai saat ini juga rutin menjalani kontrol kesehatan di RS Panti Rapih dan RS Bhayangkara Yogyakarta. Setiap dua hari sekali pun ada perawat yang datang ke rumah untuk mengecek kondisi kesehatan Lasiyo.

Sukati mengungkapkan Lasiyo masih sering mengalami pusing dan ngilu di kakinya. “Hanya terbaring di tempat tidur. Kalau duduk, tidak kuat lama,” kata Sukati.

Sukati selama ini merawat Lasiyo di rumah kakaknya. Rumah miliknya sudah tak ada lagi, hanya tinggal puing dan lantai saja. “Selama ini menumpang di rumah kakak,” katanya.

Rumah yang ditinggali bersama Lasiyo dan dua anaknya ini terlihat cukup sederhana. Bangunan rumah masih batokan, sedangkan usuk atapnya berupa bambu. Tanpa meja dan kursi di ruang tamu, sebagian ruangan hanya ditutup gorden saja. Sarana kamar mandi pun jauh dari layak.

Yuni Astuti mengajak kepada pihak-pihak lain untuk membangun kembali rumah Lasiyo. “Syukur kalau punya rezeki saya beli materialnya, nanti teman-teman (Pemuda Pancasila) yang membangun. Hanya saja kalau bisa dibangun di lahan yang lebih strategis karena sebenarnya dibutuhkan bantuan untuk membuka usaha keluarganya,” kata istri Ketua MPW Pemuda Pancasila DIY Faried Jayen itu.

Sementara, Faried Jayen menambahkan para anggotanya harus bersedia membantu masyarakat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. “Semampunya kita bantu masyarakat karena kita ada di masyarakat. Gedangsari ini hanya salah satu contoh bentuk kepedulian Pemuda Pancasila kepada sesama,” ucapnya.(rid/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *