Komunitas Tembakau Bakal Tolak Kenaikan Cukai Rokok

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Lima komunitas yang berada dalam ekosistem industri tembakau Daerah Istimewa Yogyakarta bakal menolak rencana pemerintah menaikan cukai rokok di tahun depan. Perjuangan penolakan bakal ditempuh seperti sebelum-sebelumnya, membakar tembakau di ruas jalan utama.

Kelima komunitas ini pada Senin (30/8) usia berkordinasi menyatakan seiya sekata menolak kenaikan cukai yang ditargetkan tahun depan sebesar 11,3 persen dibandingkan tahun ini yang sebesar Rp146 Triliun.

Lima komunitas itu yaitu Asosiasi Petani Tembakau Indonesia ( APTI), Lembaga Konsumen Rokok Indonesia ( LKRI), Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (SPSI RTMM ), Pedagang Asongan Rokok Yogyakarta (PAY), dan Perwakilan Industri Rokok Kecil DIY.

“‘Hari ini kami menyepakati dan menolak rencana pemerintah menaikan cukai atau harga jual rokok 2022. Pernyataan yang kami tanda tangani ini segera kami kirimkan ke Presiden Joko Widodo,” kata Triyanto, Sekjed Asosiasi Petani Tembakau Indonesia ( APTI).

Mereka juga meminta pemerintah mengkaji ulang tentang rencana kenaikan cukai karena akan berdampak sampai kepada 15 ribu petani tembakau dan 5 ribu buruh rokok di industri rokok. Jika cukai ini dinaikan, Triyanto memprediksi pabrik tidak bakal menyerap tembakau petani dan akhirnya berdampak pada pemutusan hubungan kerja buruh.

“Devisa dari pajak rokok tinggi. Namun saya melihat ini hanya sekedar menjadi komoditas saja karena selama in kami di tingkat bawah tidak pernah diperhatikan,” ucapnya.

Bersama dengan dua organisasi lainnya seperti Pedagang Asongan Rokok Yogyakarta (PAY) dan Perwakilan Industri Rokok Kecil DIY.

Agus Sunandar dari LKRI meminta kenaikan cukai sewajibnya dibebankan pada cigaret kretek mesin (SKM) bukan industri sigaret kretek tangan (SKT) atau rokok kretek.

“Kenaikan cukai rokok sama tidak menguntungkan konsumen. Kami merokok meskipun rokok naik, entah melinting sendiri atau dengan bahan lainnya. Kreatifitas kami buntu jika tidak merokok,” katanya.

Ketua SPSI RTMM Waljid Budi Lestarianto menyatakan kesepakatan ini nantinya akan dikirimkan ke Presiden serta melakukan komunikasi dengan asosiasi industri tembakau di daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

“Ekosistem industri tembakau adalah sawah ladang kami. Jika memang jelas-jelas diganggu kami sampai akan akan melawan agar kami tetap bisa terus hidup,” jelasnya.

Ia menerangkan, ada kemungkinan aksi beberapa tahun lalu yang dilakukan petani tembakau dengan membakar hasil panennya di jalan Yogyakarta-Solo bisa terulang agar didengarkan pemerintah.

“Tuntutan lainnya adalah agar pemerintah mempermudah mekanisme distribusi Kegunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan memaksimalkan penggunaannya untuk petani tembakau dan buruh serta pekerja pabrik rokok,” jelasnya.

Pemerintah mensinyalkan kenaikan cukai rokok yang tertuang dalam Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022. Cukai tahun depan ditargetkan naik sebesar 11,9 persen atau senilai Rp203,92 T. (set)