Konten Kreator perlu Menyebarkan Nilai Berguna Agar Tercipta Kecerdasan Digital

by

Koran Jogja – Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menyebut globalisasi yang menghadirkan kemajuan teknologi informasi dan digital yang sekarang menjadikan bumi layaknya kampung kecil.

“Membuat segala macam hal terkoneksi, terutama bidang ekonomi dan sosial budaya. Mengalami perubahan yang sangat radikal. Dampak pada dunia pekerjaan juga dihadirkan globalisasi,’ katanya dalam seminar daring bertema ‘Tantangan Budaya dalam Melawan Globalisasi’ yang diselenggarakan oleh Kominfo pada Jumat (24/9).

Menurut politisi PKS asal Daerah Istimewa Yogyakarta, kemajuan teknologi itu menghadirkan tantangan yang luar biasa. Namun meski terkoneksi bebas tanpa hambatan, namun kedepannya setiap negara akan membuat standar atau nilai berbeda untuk apa perilaku yang dihadirkan oleh teknologi informasi.

Karena semua orang, khususnya anak-anak muda sudah melek digital. Maka untuk mempertahankan mereka dari serangan atau infiltrasi perilaku dari luar maka nilai budaya harus menjadi tameng pelindung.

“Nilai budaya dan kebangsaan haruslah disebarkan lewat media yang sama. Lewat gadget. Ini artinya diperlukan rekayasa oleh konten creator untuk menyebarkan nilai-nilai itu guna melahirkan kecerdasan ditigal,” ujarnya.

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Widodo Muktiyo mengatakan kekuatan budaya yang dimiliki suatu bangsa akan menjadi kunci kekuatan dalam melawan globalisasi.

“Dalam melawan tantangan yang dihadirkan globalisasi yang semakin pesat dengan dukungan kemajuan teknologi digital. Nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan menjadi modal penting dalam perkembangan globalisasi,” katanya.

Widodo mengatakan bahwa kebudayaan yang dimiliki satu bangsa secara umum memiliki nilai-nilai nasionalisme baik yang diperlihatkan dalam bidang ekonomi, politik, maupun sosial lainnya.

“Namun sayangnya, di negeri kita korupsi, radikalisme, intoleransi dan kesenjangan sosial belum menggambarkan keutuhan bangsa yang sering kita gembor-gemborkan dalam kehidupan kebudayaan kita,” jelasnya.

Sementara mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Sutrisna Wibawa menegaskan bahwa mempertahankan identitas diri lewat budaya adalah upaya mempertahankan kehidupan di era globalisasi ini. (rhi)