Pantai Ngobaran, Wisata yang Menawarkan Pengetahuan dan Pengalaman

by 3 weeks ago

Gunungkidul, Koran Jogja – Kaya akan pilihan wisata alamnya, Kabupaten Gunungkidul memiliki satu tawaran destinasi pantai yang cukup menarik. Yakni sambil menikmati keindahan pemandangannya juga bisa mendapatkan pengetahuan serta pengalaman baru ketika berkunjung ke Pantai Ngobaran.

Pantai Ngobaran terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul atau tepatnya di sebelah barat Pantai Ngrenehan berjarak sekitar dua kilometer. Kondisi geografi pantai ini dikelilingi oleh tebing dengan debur ombak yang kencang menghasilkan pemandangan yang eksotis.

Fenomena itulah yang kerap menjadi alasan wisatawan saat berkunjung ke pantai ini. Para pengunjung bisa menuju puncak batu karang untuk mendapatkan spot foto terbaik.

Di sisi lain, keunikan Pantai Ngobaran ini juga bisa dilihat dari sudut budaya dan agamanya. Nuansa Hindu, Buddha, dan Jawa sangat kental terasa di pantai ini. Pada tahun 2003, prasasti berupa gapura dan patung-patung dewa khas Hindu dan Buddha didirikan untuk memperingati kehadiran keturunan Raja Brawijaya V di Pantai Ngobaran. Prasasti tersebut diresmikan pada 17 Agustus 2004.

Di sebelah kiri prasasti, wisatawan akan menemukan Joglo yang merupakan tempat ibadah aliran Kejawan. Aliran Kejawan merujuk kepada salah satu putra Raja Brawijaya V, Bondan Kejawan. Di depan Joglo juga terdapat sebuah kotak batu yang sekarang dikenal sebagai Pura Segara Wukir. Pura tersebut dipercaya sebagai tempat Raja Brawijaya V melakukan ritual membakar diri.

Kemudian di depan Kotak batu itu ada bangunan Masjid yang sederhana dengan beralaskan pasir pantai. Masjid ini ukurannya sekitar 3×4 meter. Lantainya yang langsung dari pasir seolah menyatu dengan alam. Yang paling unik adalah kebanyakan masjid di Indonesia umumnya menghadap Barat.

Tetapi masjid ini justru dihadapkan ke selatan. Bagian depan tempat imam memimpin salat terbuka hingga langsung melihat lautan. Akan teapi, penduduk setempat tetap memberi tanda di tembok dengan pensil merah sebagai petunjuk arah kiblat yang sebenarnya.

Di pantai tersebut penduduk setempat dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam, hidup nyaman berdampingan. Pura Segara Wukir oleh umat Hindu digunakan untuk upacara Melasti, yakni ritual penyucian menjelang Hari Raya Nyepi umat Hindu.

Kemudian untuk penganut aliran kepercayaan Kejawen juga bisa menjalankan keyakinannya di Candi Moyodipo. Penganut Kejawen menjalankan ritual, di antaranya menenangkan diri dan bertapa di sekitar petilasan.

Pantai Ngobaran juga menyelenggarakan seremoni Tahun Baru Jawa 1 Suro dan Labuhan setiap satu tahun sekali. Ada pula upacara nyadran setiap musim tanam tiba. Ritual Nyadran merupakan wujud syukur. Warga pantai menyajikan ingkung ayam dan makanan pendukung.

Umat Muslim pun bisa menjalankan ibadah salat di musala yang tak jauh dari Candi Moyodipo. Kelompok sadar wisata setempat selalu menekankan kepada warga dan pengunjung agar saling menghormati perbedaan. Atas latar belakang itulah, wisawatan yang datang selain bisa menikmati keindahan alamnya juga mendapatkan pengalaman baru.

Untuk berkunjung ke Pantai Ngobaran, pilihan yang terbaik adalah memakai kendaraan pribadi. Pasalnya, kendaraan umum menuju pantai ini masih jarang ditemui. Untuk sampai di pantai, perlu menempuh 2 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta. Ada banyak petunjuk arah menuju Pantai Ngobaran, sehingga tak perlu khawatir akan tersesat.

Sesampainya di pantai, wisatawan diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp3.000 per orang. Tiket tersebut juga bisa menjadi akses untuk berkunjung ke Pantai Ngrenehan, 2 km dari Pantai Ngobaran. Meski jam operasional tidak berlaku, sebaiknya berkunjung saat pagi ataupun siang hari.(rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *