Beberapa Ajaran Buya Syafii yang Diingat Haedar Nashir

by
dok. Muhammadiyah

dok. Muhammadiyah

Sleman, Koran Jogja- Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan beberapa hal mengenai ajaran dan laku hidup Buya Syafii Maarif.

Hal itu dikatakannya di sela peresmian Serambi Buya Syafii pada Kamis 10 November 2022.

Haedar Nashir mengatakan merayap dari bawah dan berangkat dari nol ini merupakan kisah yang melekat pada perjalanan hidup Buya Syafii.

Haedar menyebut Buya Syafii merupakan sosok yang mampu membungkus ketegasan, rasionalitas dengan humanis.

Hal itu tercermin dari keseharian Buya Syafii yang menjalani hidup dengan santai.

Meski merupakan sosok tokoh besar, namun Buya Syafii tidak berjarak dengan realitas, dirinya ‘mudah dijangkau’ oleh siapapun.

“Jadi siapapun itu, tetap jadi manusia biasa yang memancarkan humanism. Humanism nya juga biasa, tidak dibuat-buat, dan itulah autentisitas yang selalu diajarkan beliau,” katanya.

Haedar menyebut Buya Syafii juga merupakan sosok yang mempraktekkan demokrasi.

“Beliau mempraktekkan demokrasi itu dalam sikap egalitarian. Beliau sangat resah ketika melihat tokoh yang begitu menyuarakan demokrasi, bahkan di eluh-eluhkan menjadi tokoh demokrasi, tetapi begitu dikritik marah,” ujarnya.

Menurut Haedar, Buya Syafii juga mengajarkan supaya tidak melawan kritik dengan sikap otoritarian.

Baik otoritarian personal maupun institusional. Menurut Haedar itu merupakan kunci dari praktek demokrasi.

“Ketika negara dan orang di negara itu yang memegang kunci kekuasaan, ketika dikritik bisa lapang hati atau tidak melawan kritik dengan penjara, tidak melawan kritik dengan intimidasi, tidak melawan kritik dengan kriminalisasi alus maupun terbuka,” ucapnya.

Haedar juga mengingat sosok Buya Syafii sebagai pribadi yang cinta ilmu. Sebagai sosok yang lebih muda dari Buya Syafii, Haedar kerap kali mendapat rekomendasi buku-buku dari Buya Syafii. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *