Cintamu Bukan Untukku, Dyani dan Mercy Hadirkan Musik 1990an

by

Bantul, Koran Jogja – Sempat vakum berkarya sepuluh tahun, Dyani Dee kembali merilis single perdananya berjudul ‘Cintamu Bukan Untukku’. Kembalinya Dyani ini atas ajakan komposer Louise Mercy Eunice.

Peluncuran lagu ini secara online sudah dilakukan pada Jumat (4/3) di berbagai platform musik dan di kanal YouTube sudah mendapatkan 2.000 penonton.

Kepada media, lagu ini dikenalkan kembali dalam jumpa pers di Djiwa Coffee, The Ratan, Sewon, Sabtu (5/3).

“Lagu ini sebenarnya sudah ada sejak Agustus 2021 lalu dan pengarapan videonya dikerjakan production house Omah Watu Art Yogyakarta,” kata Dyani.

Baginya, sepuluh vakum dalam memproduksi karya sempat membuat dirinya grogi di awal pengerjaan lagu di Studio Kelana Halim, Jakarta. Tapi Ia diyakinkan Mercy bahwa suaranya yang khas cocok untuk membawakan lagu ini.

Lagu ini diangkat dari kisah nyata Mercy. Ia menceritakan kisah cinta yang tidak memungkinkan di antara dua sejoli. Karya ini juga merupakan hasil kontemplasi sang komposer selama masa pandemi dalam menjawab kegelisahan hatinya.

“Ini lagu pertama dari enam lagu yang kita sajikan dalam satu album. Kita menargetkan album ini selesai dalam setahun kedepan,” jelas Dyani.

Dibandingkan dengan peluncuran album di 2005, Ia mengatakan kehadiran berbagai platform dan aplikasi musik memberi kemudahan bagi para musisi muda lebih berkreasi. Karena memang lebih cepat karyanya dikenal.

Mercy menerangkan lewat lagu ini dirinya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan karya yang dihasilkan oleh musisi seumurannya. Dimana kebanyakan dari mereka condong ke arah musik indie.

“Saya ingin menghadirkan lagi musik-musik pada era 1990-an maupun awal 2000-an. Ini seperti menghadirkan kenangan pada musik yang seumuran saya dengan saat sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama,” kata Mercy yang memang instrumen bas.

Meskipun saat ini perkembangan musik semakin bagus dari tahun ke tahun karena kemajuan teknologi.

Namun dirinya meyakini karyanya memiliki potensi musik Indonesia yang pernah berjaya pada era 1980 sampai 2000-an awal.

“Saya tidak mau mengikuti arus dalam bermusik. Saya tetap mengikuti ideologi sendiri dan masih tetap berbaur. Lagu ini menjadi anthem sederhana bagi para insan yang pernah mengalami kuldesak, antara untuk tetap mencinta atau berhenti,” katanya.

Mercy mengatakan ‘Cintamu Bukan Untukku’ menjadi sebuah pengingat bahwa tidak semua yang pernah, masih dan akan ada, sepenuhnya akan tetap tinggal menjadi tempat pulang pagi setiap manusia.

Dari aransemen dan sound design Kelana Halim mengungkapkan lagu ini sangat dipengaruhi lirik dan juga progresi chord dasarnya.

Rasa yang ingin ditimbulkan adalah keputusasaan, kesedihan dan kesepian. Nuansa lagu juga dibuat sepi dan menggaung seakan seseorang berada sendirian di dalam ruangan hampa yang besar. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *