Di Jodog, Gerobak Sapi Bantul Memilih Menolak Mati

by

Bantul, Koran Jogja – Tersingkirnya dari jalanan tidak menjadikan pengemudi gerobak sapi atau biasa disebut ‘Bajingan’ di Bantul undur diri dan mati. Mereka melawan jaman dengan tidak lagi sebagai angkutan barang, namun angkutan orang.

Lewat paguyuban gerobak sapi ‘Guyup Rukun’ yang terpusat di Dusun Jodog, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak. 40-an pemilik gerobak sapi berserikat dan bertahan.

“Sekarang gerobak sapi sekarang hadir sebagai akomodasi bagi wisatawan menikmati suasana desa dan kendaraan bagi pengantin baru. Tarif antara Rp75.000 untuk keliling desa dan tiga sampai empat kali lipat untuk kendaraan pengantin,” kata ketua paguyuban Wisata Gerobak Sapi ‘Jodogkarta’ Tri Iswanto, Rabu (23/2).
.
Sebagai upaya pelestarian dan memperkenalkan ke generasi muda angkutan tradisional ini, setiap hari pasaran Minggu Pon gerobak sapi diundang berkumpul di lapangan Jodog.

“Di hari pasaran Pasar Jodog itu, gerobak sapi kita gunakan untuk mengangkut wisata berkeliling dusun. Dengan biaya Rp75.000 untuk lima penumpang kita ajak wisatawan berkeliling desa dengan durasi 30 menit,” katanya.

Baru dimulai Januari lalu, Tri menyebut antusiasme masyarakat terhadap kehadiran gerobak sapi sebagai akomodasi wisata disambut positif.

Menurutnya gerobak sapi bukanlah sekedar angkutan tradisional saja, namun menjadi kebanggaan bagi pemiliknya. Dengan harga pembuatan sekitar Rp15 juta, ini belum nilai dua sapi yang menjadi penarik. Tri mengatakan gerobak itu menjadi aset berharga.

Bahkan dia menyebut, bahwa gerobak milik salah satu anggotanya Sumardiyanto merupakan gerobak terbaik dalam hal orisinalitas. Gerobak yang dihargai Rp20 juta ini adalah juara pertama lomba gerobak sapi tidak tahun berturut-turut.

Sumardiyanto, salah pemilik gerobak sapi dari Kecamatan Imogiri mengenang bagaimana dulu di era 1980-1990-an. Gerobak sapinya masih menjadi andalan bagi perajin batik di Karangkajen, Kota Yogyakarta maupun rumah produksi mie lethek Kecamatan Pandak, Bantul sebagai pengangkut kayu bakar.

“Dulu tiga hari sekali, dari Imogiri saya mengangkut kayu seberat 1,5 ton ke Karangkajen dan Pandak dengan upah Rp250.000,” ceritanya.

Menyoal nama, anggota senior paguyuban Prapto Prayitno menyebut jika nama Bajingan disematkan untuk membuat takut para bajingan yang dulu kala menjadi musuh utama di jalanan.

“Kalau kami kalah dengan bajingan di jalanan dulu, tak hanya angkutan, gerobak dan sapinya bisa hilang. Tapi sebenarnya bajingan memiliki arti bagus ing jiwo, angen-angen neng pangeran (Bagus jiwanya dan selalu ingat pada Tuhan),” katanya. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *