Gerus Ideologi Komunis, PP DIY Napak Tilas ke Monumen Pahlawan Pancasila

by

Sleman, Koran Jogja – Saksi bisu pengkhianat sekelompok orang yang dikenal dengan aksi G30S/PKI salah satunya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tepatnya di Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman, terdapat bangunan monumental bernama Museum Monumen Pahlawan Pancasila. Tempat ini pun bisa menjadi sarana belajar dan memperkuat ideologi Pancasila terutama bagi kaum milenial.

Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) DIY, Faried Jayen Soepardjan mengatakan, ada sedikit sejarah yang hilang di kalangan milenial saat ini. Menurutnya, pembelajaran sejarah bangsa dalam rangka memperkuat ideologi Pancasila yang diberikan di tingkat sekolah masih kurang.

“Ada generasi milenial yang terputus sedikit, pembelajaran sejarahnya,” katanya saat di Museum Monumen Pahlawan Pancasila di Sleman pada Jumat (2/10) sore.

Faried Jayen mengungkapkan, pernah ada seorang anak muda yang berlatar belakang mahasiswa mempertanyakan alasan PKI dilarang di Indonesia kepadanya. Ini menjadi salah satu bukti kurangnya pemahaman nilai sejarah yang didapatkannya selama ini.

Terlebih, menurutnya, PKI saat ini memang sudah tidak ada di Indonesia. Namun ideologi yang digunakan masih hidup di kalangan masyarakat yang harus terus digerus. “Mereka menggunakan fitnah, dan adu domba,” ucap Faried Jayen.

Dengan kondisi seperti itu, Faried Jayen mengajak para pengurus Majelis Pimpinan Cabang (MPC) PP di tingkat kabupaten dan kota yang ada di DIY untuk melakukan napak tilas Museum Monumen Pahlawan Pancasila ini pada Jumat (2/10). Sekaligus memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang ke-55. Sehingga ideologi-ideologi Pancasila bisa semakin kokoh dimiliki para anggotanya.

Monumen ini mulai dibangun pada 1988 dan diresmikan 1 Oktober 1991 silam. Pagar monumen dihiasi relief yang menggambarkan kronologi penculikan hingga pembunuhan Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono.

Di tempat ini terdapat pula beberapa  koleksi sejarah antara lain kunci, baju, sepatu, serta atribut yang biasa digunakan oleh kedua Pahlawan Pancasila. Selain itu, adapula biografi  dan buku pendukung sejarah di ruang indoor.

Sedangkan di ruang outdoor terdapat kendaraan tank yang digunakan untuk membawa jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara. Ada pula mobil yang digunakan untuk menculik kedua pahlawan, hingga lubang sedalam 70 centimeter yang digunakan untuk mengeksekusi Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono.(rid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *