Guru dan Lansia Jadi Sasaran Vaksin Selanjutnya

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Dinas Kehehatan DIY akan menggelar vaksinasi Covid-19 massal kedua dengan target lansia dan guru. Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie mengatakan bahwa persiapan agenda tersebut tengah dilakukan.

“Nah yang kita sedang siapkan minggu depan, untuk guru, kemudian pelaku pariwisata, UMKM, dan lansia. Besok lansia yang agak banyak. Kalau kemarin kan lansia baru seratus saja, besok nggak hanya lansia dari kota saja, melainkan kabupaten juga. Kita alokasikan seribu lansia, tapi belum dapat dipastikan besok dapat berapa. Tapi ada pembatasnya lah. Kita juga masih menimbang, kalau usianya 70 tahun ke atas, mungkin ke RS saja,” ujarnya.

Pembajun menambahkan, dengan kuota 1.000 lansia, pelaksanaan vaksinasi bisa dilakukan dalam waktu sehari. “Inginnya lansia khusus saja, satu hari itu, dokter-dokternya akan kita kerahkan,” jelasnya. Untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dengan target sasaran ini dilakukan mulai Selasa (06/04) hingga Jumat (09/04).

Sejatinya, vaksinasi Covid-19 untuk guru, sebagian sudah dilaksanakan kabupaten/kota. “Kita intinya mau membantu percepatan. Targetnya besok sekitar 4ribu guru, terutama dari SMA yang milik Pemda. Untuk jumlah lansia, guru, dan pelaku pariwisata sendiri totalnya 10-12ribu orang,” ujar Pembajun.

Pemberian vaksin kepada tenaga pendidik merupakan sebuah upaya tindak lanjut akan rencana pemberlakukan pembelajaran luring pada SMA dan SMK di DIY.

Pada Jumat (27/03), Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan mulai April atau Mei, akan dilakukan uji coba pembelajaran tatap muka pada 5 SMA dan 5 SMK di DIY. Hasil dari uji coba selanjutnya disampaikan kepada Gubernur DIY sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Pembajun disampaikan disela-sela hari pertama pelaksanaan vaksinasi Covid-19 massal dossis kedua bagi pelayan publik dan ASN, di Grha Pradipta (Jogja Expo Center), Bantul, Senin (29/03). Sebanyak 11.630 orang yang divaksin pada kesempatan ini, sebelumnya telah menerima vaksinasi dosis pertama antara Senin (15/03) hingga Jumat (19/03).

Adapun target harian vaksinasi Covid-19 ini sama seperti sebelumnya yakni 2.300 orang per harinya. “Untuk pelaksanaannya akan digelar hingga Sabtu (03/04), lima hari, mengingat Jumat (02/04) itu kita libur,” tukasnya.

Sementara, terkait dengan datangnya bulan Ramadhan, Pembajun berujar bahwa pelaksanaan vaksinasi tetap dilaksanakan pagi hari. “Kami laksanakan pagi, untuk menghindari hypoglikemia, atau kurangnya kadar gula pada manusia. Kalau pelaksanaannya malam hari, ya habis buka puasa, kasian pasien dan nakesnya. Kami optimis masih tetap jalan, tapi tidak sebanyak ini,” jelasnya.

Di samping itu, Pembajun menyatakan bahwa jumlah vaksin Covid-19 yang dimiliki DIY masih aman. “Hari ini (29/03), kurang lebih masih 1.750-an vial atau sekitar 17.000. Jumlah ini masih cukup untuk vaksinasi massal yang besok. Mulai massal besok, rentangnya 28 hari, sudah pakai pedoman yang baru, berlaku lansia maupun nonlansia,” terang Pembajun.

Pembajun juga berharap, program vaksinasi membutuhkan dukungan banyak pihak agar dapat berjalan lancar. “Pada prinsipnya satu, masukkan data dulu. Kalau tidak masuk, mau dihitungnya bagaimana. Ketika data pertama sudah disedot, kami akan masukkan aplikasi. Nah, sudah ngendika (berkata) sekian, tapi ternyata malah datanya nggak ada,” ujar Pembajun.

Di samping itu, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantono, mengutarakan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dosis kedua yang digelar massal ini sudah kondusif. “Hari ini sudah lebih tertata. Jadwal dan jam-jamnya sudah baik, kalau kita taat pada itu, maka kemudian bisa diminimalisir,” urainya.

Biwara juga kembali menekankan bahwa berdasar pengalaman dari berbagai daerah, klaster yang dimungkinkan terjadi berasal dari takziah, arisan, hajatan, dan sebagainya. “Ini mengubah adaptasi kan tidak mudah. Ketika orang berkumpul, itu kemudian lupa. Secara nggak sadar, dia kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama. Lama tidak ketemu, kemudian di hajatan ketemu, itu menjadi lepas kontrol.”

Menurut Biwara, hal tersebut patut menjadi perhatian bersama. “Apalagi menjelang puasa lebaran, aktivitas-aktivitas akan banyak, dalam situasi normal. Itu yang perlu dicermati betul. Sebenarnya zonasi itu kan tingkat RT. Kalau aktivitas antar RT misal hajatan, yang datang kan tidak hanya RT itu, artinya kita perlu kehati-hatian,” terangnya.

Biwara menambahkan, jika aktivitas dilakukan dalam lingkup RT, seperti arisan RT dan semacamnya, justru yang lebih tahu adalah masyarakatnya sendiri. “Namun kalau yang erat kaitannya dengan rasa atau kemanusiaan, itu terus kemudian lupa,” ujar Biwara.

Berkaitan dengan mudik, Biwara menjelaskan jika mudik akan menyebabkan penumpukan masyarakat dalam suatu daerah. “Maka kemudian harus ada filter-filter, filter awal kan di daerah asal. Ketika sudah keluar, maka akan sulit, apalagi ketika sudah sampai pada warga. Kuncinya saya kira di daerah asalnya, di hilirnya, sehingga akan memperkecil penularan di desa tujuan,” tutupnya.(rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *