Hutan Wanagama Jadi Tempat Karantina Reaktif Covid-19

by 4 months ago

Koran Jogja – Rumah peneliti Wanagama I digunakan sebagai tempat karantina sementara bagi warga Kabupaten Gunungkidul yang dinyatakan reaktif setelah melalui rapid test. Hutan pendidikan UGM yang berlokasi di Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunungkidul tersebut mulai dipakai untuk  karantina mandiri sejak Kamis (21/5).

Pemilihan rumah peneliti Wanagama menjadi tempat karantinainiuntuk mendukung pemenuhan kebutuhan ruang karantina bagi pasien reaktif di Gunungkidul. Sementara RSUD Gunungkidul akan diprioritaskan untuk pasien positif Covid-19 yang membutuhkan perawatan intensif. Selain itu,hal ini juga sebagai langkah preventif sekaligus rehabilitatif dalam proses perawatan orang yang dinyatakan reaktif setelah melalui uji PCR dalam tes cepat.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Budiadi menjelaskan bahwa pihaknya proaktif menyediakan tempat karantina dengan menawarkan salah satu wisma Wanagama. Penawaran ini merupakan salah satu upaya kontribusi dari Wanagama untuk GunungKidul.

“Saat ini pemkab Gunungkidul mengintensifkan rapidtest dan bagi yang reaktif nantinya dilakukan pengambilan sampel swab. Selama menunggu hasil ujiswab, mereka dapat di karantina agar mencegah peluang penularan. Oleh karena itu, kami menawarkan wisma Wanagama menjadi tempat karantina,” paparnya.

Budiadi menyebutkan sebanyak 8 paviliun telah disiapkan untuk ruang karantina. Delapan paviliun tersebut terdiri dari 7 paviliun untuk ruang karantina dan 1 paviliun sebagai ruang medis atau perawatan. Tiap paviliun dilengkapi dengan fasilitas 4 toilet, 2 dapur, 2 kamar tidur, serta 1 ruang bersama.”Total kita siapkan 46 tempattidur untuk pasien karantina dan 4 tempattidur bagi tenaga medis,”jelasnya.

Rektor UGM, Panut Mulyono, dalam sambutannya, juga menjelaskan bantuan tempat ini juga menunjukkan bahwa modal sosialdi DIY sangat. Modal social tersebut yakni keguyuban, solidaritas, serta rasa senasib sepenanggungan karena berada di wilayah yang sama. Hal initerbuktidaripenangananbencana di DIY, sepertigempatahun 2006 dan meletusnya Gunung Merapi tahun 2011.

Pada kedua bencana tersebut pemulihannya terbilang lebih cepat jika dibandingkan daerah dengan bencana serupa di Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap hal ini dipertahankan.

Selainitu, Panut menyatakan bahwa dengan hal ini UGM juga ingin menunjukkan bahwa dibangunnya Wanagama tidaksemata-mata didedikasikan hanya untuk kebutuhan pendidikan. Namun, fasilitas ini dibangun juga untuk kemanfaatan warga sekitar serta Kabupaten Gunungkidul pada umumnya.

“Saya harap nantinya bagi para pasien yang menempati salah satu wisma di Wanagama ini dapat cepat proses penyembuhannya. Suasana tenang serta pemandangan hutan di sini dapat dijadikan terapi pula yang disebut sebagai forest healing.Karantina akan berlangsung hingga 30 Juni mendatang, tetapi bias diperpanjang tergantung kebutuhan. Tempat ini akan tersedia hingga pandemic ini usai,” terangnya.(rls)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *