Koran Jogja – Emas dan perak memang cukup memukai investor pada 2026. Hargae mas naik hampir 80 persen, dan peran sekitar 150 persen.
Keuntungan jual kembali, menimbulkan pertanyaan. Harus kah menambah investasi logam mulia? Jawabannya ya, tetapi dengan hati-hati.
Ada sejumlah faktor fundamental yang mendorong reli harga emas pada 2025. Ketegangan geopolitik dio berbagai wilayah, hingga langkah AS yang memicu kenaikan harga minyak.
Persaingan dagang Tiongkok dengan AS dan Uni Eropa pun semakin intensif. Belum lagi, konfli di Timur Tengah yang terus bergejolak.
Pada masa-masa yang penuh ketidakpastian, emas menjadi aset safe-haven menjadi sangat penting.
Emas dan perak cenderung berkinerja baik ketika pengembalian riil pada aset keuangan berada di bawah tekanan, bertindak sebagai lindung nilai terhadap erosi daya beli.
Perak menikmati dorongan tambahan. Tidak seperti emas, yang terutama merupakan penyimpan nilai, perak memiliki aplikasi industri yang signifikan.
Namun investor harus waspada terhadap kesalahan mengekstrapolasi pengembalian baru-baru ini terlalu jauh ke masa depan.
Logam mulia jarang bergerak dalam garis lurus. Emas, khususnya, dikenal karena periode stagnasi yang panjang yang diselingi oleh reli tajam.
Setelah kenaikan yang kuat, harga dapat terkonsolidasi selama bertahun-tahun sebelum kenaikan berikutnya.
Itulah mengapa alokasi lebih penting daripada antusiasme. Pendekatan yang bijaksana adalah membatasi eksposur gabungan terhadap emas dan perak sekitar 20–25 persen dari keseluruhan portofolio.
Ini memastikan investor mendapat manfaat dari diversifikasi dan perlindungan terhadap penurunan nilai tanpa menjadi terlalu bergantung pada satu kelas aset. (*)
Baca artikel lainnya:
