Jamu Coro Khas Demak, Resep Turun-temurun yang Masih Terjaga

by

Sleman, Koran Jogja – Indonesia terdiri dari lebih 72 ribu desa yang memiliki potensi dan keunikan masing-masing. Dari sekian banyak desa tersebut memiliki potensi wisata dan kuliner yang belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal sebagai potensi desa.

Seperti di Desa Rejosari, Kecamatan Karang Tengah, Demak, Jawa Tengah yang memilki banyak pelaku UMKM yang memproduksi produk minuman unik yang patut kamu nikmati yakni jamu coro. Meski namanya berbau nama hewan namun bahan yang digunakan justru sebaliknya, jamu ini terbuat dari dari tepung beras yang dipadukan dengan rempah-rempah.

Menurut cerita Camat Kecamatan Karangtengah, Sofiyan, SE. Akt., menuturkan minuman jamu coro merupakan minuman khas Kabupaten Demak yang konon merupakan peninggalan dari Raden Patah yang masih terjaga hingga saat ini.

“Jamu ini peninggalan dari turun temurun,” katanya, Rabu (18/8).

Berbeda dengan kebanyakan jamu lainnya yang rasanya pahit, Jamu Coro justru berasa manis karena terbuat dari tepung beras yang dipadu-padankan dengan rempah-rempah seperti kayu manis, serai, jahe, santan, dan gula merah.

Meski demikian, pemasaran jamu ini dilakukan secara sederhana oleh penduduk setempat. Menurut Apiah Dewi Agustin, Anggota Tim KKN-PPM UGM bahwa jamu ini dijual setiap pagi di sekitar Desa Rejosari.

Untuk menjaga jamu tetap hangat, penjual yang menjajakan secara berkeliling di sekitar desa menggunakan klenting yang terbuat dari tanah liat dan ditutup dengan segumpal kain.

“Proses penuangannya pun juga tak kalah menarik, dengan menggunakan potongan bambu kecil bergagang kayu untuk mengambil dari setiap klenting yang terisi jamu coro tersebut,”ujar Dewi.

Dewi menyebutkan salah satu pedagang legendaris Jamu Coro di Desa Rejosari adalah Mbak Mela yang menggeluti usaha tersebut secara turun-temurun dari keluarganya.

Bermula dari menjajakan dagangannya dengan jalan kaki hingga naik sepeda motor, telah berhasil digelutinya hingga saat ini. “Walhasil, Mbak Mela juga dipercaya sebagai penggerak UMKM Jamu Coro di Desa Rejosari sejak beberapa tahun terakhir,”jelasnya.

Beruntung, kata Dewi, minuman jamu khas Kabupaten Demak saat ini terpilih sebagai salah satu nominasi Anugerah Pesona Indonesai (API) Awards dalam kategori minuman tradisional.

Tentu hal tersebut adalah kabar yang membahagiakan dan membanggakan, terlebih jika terdapat dukungan dan kerja sama yang apik dari berbagai pihak untuk memberikan ruang kemenangan bagi jamu coro bersaing dengan potensi daerah lainnya di API Awards.

“Kami tim KKN-PPM UGM Unit Karangtengah berkomitmen untuk memberikan sumbangsihnya selama lima puluh hari dengan menggandeng berbagai pihak, melakukan pendampingan digitalisai UMKM,”katanya.

Sejak diterjunkan 2 juli lalu hingga pertengahan Agustus, kata Dewi, ia bersama rekan anggota tim KKN PPM UGM melaknsakn sejumlah program kerja unggulan dengan memanfaatkan peluang akselerasi digitalisasi akibat masa pandemi melalui program pendampingan digitalisasi untuk UMKM di Desa Rejosari, seperti adanya pelatihan pemasaran digital melalui Whatsapp Business, e-commerce dan social commerce, serta pelatihan pembukuan UMKM digital.

Selain itu, pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Demak dalam rangka meningkatkan promosi Jamu Coro pada API Award 2021 dalam sejumlah program kerja unggulan, seperti pelatihan Instagram Marketing, survei pengetahuan, promosi, hingga perumusan Rencana Strategis Pemenangan.

Mahasiswa Prodi Akuntansi angkatan 2018 ini berharap melalui berbagai program kerja tersebut, diharapkan Tim KKN-PPM UGM Karangtengah dapat mengambil peran untuk berkontribusi secara aktif dalam memberikan dampak dan manfaat terhadap kesejahteraan masyarakat serta terbangunannya pengenalan potensi wisata Desa Rejosari.

“Kita berharap Desa ini makin dikenal oleh masyarakat secara luas lewat produk jamu coro,” katanya.(rls)