Sabtu, 20 April 2024
Koran Jogja

Asal Usul Padukuhan Blarangan di Gunungkidul, Konon ada Punggowo Majapahit Pergi dari Kerajaan

Asal Usul Padukuhan Blarangan di Gunungkidul, Kono ada Punggowo Majapahit Pergi dari Kerajaan. (dok. Humas Pemkab Gunungkidul)
Asal Usul Padukuhan Blarangan di Gunungkidul, Kono ada Punggowo Majapahit Pergi dari Kerajaan. (dok. Humas Pemkab Gunungkidul)

Koran Jogja – Padukuhan Blarangan berada di Sidorejo, Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Menurut cerita masyarakat setempat, ada asal usul dari padukuhan di timur Kecamatan Wonosari ini.

Dahulu, ada punggowo dari Majapahit yang pergi dari Kerajaan. Mereka adalah Tumenggung Wayang dan Tumenggung Sesuco Ludiro.

Prajurit Kerajaan pun mengejar mereka untuk dipaksa kembali. Namun karena ada penolakan, terjadi lah pertempuran.

Pertempuran antara pungguwo dengan prajurit Kerajaan cukup sengit. Keduanya dikepung atau dikalang.

Ki Wayang saat itu sulit untuk ditaklukkan oleh para prajurit. Namun tiga bagian tubuhnya kemudian dipisah.

Ki Wayang pun tak berdaya lagi setelah tersungkur. Atas kejadian itu, daerah tersebut kemudian disebut Blarangan dari kata Mblarah Getih Blarah.

Sedangkan momen ketika dikalang itu memunculkan nama Padukuhan Kalangan yang berada di Kecamatan Karangmojo.

Ki Wayang akhirnya meninggal dunia. Sedangkan Ki Sesuci Ludiro masih bertahan hidup setelah melalui pertempuran itu.

Ki Sesuci Ludiro kemudian mengajarkan bercocok tanam kepada masyarakat setemnpat dan menjadikan daerah yang ditinggaliunya subuh makmur.

Seiring waktu, Ki Seco pun akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di daerah Blarangan.

Lurah Sidorejo, Ponjong, Sidiq Nur Safii mengatakan setiap tahun sekali dalam tanggalan Jawa 15 Ruwah di Padukuhan Blarangan rutin menggelar tradisi nyadran sedekah ingkung ayam.

Nyadran ini salah satu tujuannya yakni untuk mengingat cikal bakal munculnya Padukuhan Blarangan.

“Kegiatan ini di gelar dengan pembiayaan dana desa Tahun 2024 dan swadaya gotong royong semua warga,” katanya, Senin (26/2).

Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan, banyak tradisi dan budaya di Gunungkidul yang sampai saat ini masih terus dilestarikan.

“Saya kagum dengan semangat masyarakat dikalurahan ini. Kearifan lokal yang masih dijaga didalamnya menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong,” paparnya. (*)

Baca artikel lainnya: