Meski Dijemput Bola, Hanya 6 Warga Yang Ikut Tes Swab

by

Bantul, Koran Jogja – Meski sudah melakukan jemput bola terhadap warga yang terlacak berkontak erat dalam kasus penolakan makam tanpa protokol kesehatan. Namun dari 25 warga yang terdata hanya enam yang hadir mengikuti tes swab PCR.

“Sedikitnya warga yang berkenan mengikuti tes hari ini ini karena kurangnya kesadaran masyarakat. Kami akan terus berupaya persuasif masih agar warga mau mengikuti tes swab,” kata Camat Srandakan, Anton Yulianto, Sabtu (5/6).

Menurutnya tes lanjutan kepada warga yang belum bersedia tetap akan digelar di hari-hari berikutnya namun warga harus datang ke Puskesmas Srandakan.

Gelaran jemput bola untuk mengetes warga yang berkontak erat saat pemakaman pasien positif Covid-19, Jumirah (70) warga RT 92 Dusun Lopati, Desa Trimurti, Bantul sebagai upaya untuk mengubah persepsi warga yang sebelumnya menolak tes dengan alasan sudah melakukan tes mandiri.

“Namun nyatanya belum. Bagi yang bersedia tes hari ini, hasilnya dapat diketahui pada Senin lusa,” ucapnya.

Kabid Perlindungan Masyarakat Satpol PP Bantul Muhammad Agung Kurniawan yang memantau langsung pelaksanaan tes mengutarakan dari hasil pelacakan Satgas Penanganan Covid-19 diketahui terdapat 25 warga yang berkontak erat saat proses pemakaman.

“Sementara hanya 25 nama itu yang ikut dalam proses pemakaman pada 1 Juni lalu. Data masih bisa berubah-ubah,” tegasnya.

Terkait kasus ini, Ketua RT RT 92 Lopati, Kuswanto memberikan klarifikasi,. Menurutnya warganya tidak menolak penerapan prokes saat pemakaman Jumirah (70). Hal ini terjadi karena kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara pemangku RT dengan Satgas Penanganan Covid-19 baik desa maupun kecamatan.

“Sebelum dimakamkan, warga sudah berupaya menghubungi satgas tapi tidak datang dan memberikan respon. Termasuk rumah sakit ada rambu-rambu kalo sudah di peti itu lebih aman gitu lho,” kata Kuswanto.

Lantaran Satgas tidak kunjung datang, warga kemudian memakamkan jenazah tersebut. Dalam pemakaman tersebut, Kuswanto menjelaskan bahwa jenazah tidak dikeluarkan dari peti tapi langsung dimakamkan.

“Kami menyalatkan jenazah di dalam ambulans. Penolakan itu tidak benar tapi ada miss komunikasi,” ucapnya.

Meski tidak mendetailkan jumlah orang yang ikut memakamkan, dia menyebut warga yang ikut memakamkan sedikit karena persiapan pemakaman sejak pukul 04.00 WIB.

Menurut Kuswanto kasus ini tidak bakal terjadi jika petugas ada kehadiran personel satgas yang memberi arahan. Namun karena waktunya yang dini hari, Kuswanto menyadari pemakaman harus segera dilakukan karena keluarga panik.

Terkait soal sosok A yang dilaporkan para relawan pemakaman Covid-19 Bantul karena diduga memprovokasi, Kuswanto menyebut bahwa orang tersebut adalah warga RT 93.

Pasalnya di 8 Mei di RT tersebut ada kasus suspect corona meninggal dunia dan dimakamkan tanpa prokes karena ada warga berpendapat lain. Jadi karena kecewa, Satgas menurut Kuswanto menyamaratakan semua orang yang berada dekat wilayah RT 93.(set)