Pemerintah Lalai Selama Pandemi, Komunitas SPJ Tolak Penghargaan

by

Bantul, Koran Jogja – Menilai pemerintah gagal dalam memberikan akses bantuan selama di masa pandemi Covid-19 ke masyarakat kelas bawah dan terpinggirkan, Komunitas Solidaritas Pangan Jogja (SPJ) menolak penghargaan dari Kementerian Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

SPJ mendesak pemerintah fokus pada penyediaan akses ke bidang administrasi, kesehatan, pendidikan dan pekerjaan bagi masyarakat miskin dibanding memberi penghargaan ke gerakan solidaritas rakyat.

“SPJ adalah gerakan sosial komunitas relawan yang fokus membantu perekonomian masyarakat miskin Daerah Istimewa Yogyakarta di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah penggalangan donatur untuk menyediakan nasi bungkus,” kata Safiatudina, relawan sekaligus juru bicara SPJ di dapur Wonocatur, Bangutapan, Bantul, Jumat (4/12).

Sebelumnya, melalui Sekretaris Daerah Pemkot Yogyakarta, SPJ diundang bertemu perwakilan Kemenpan RB terkait terkait pemberian penghargaan TOP 21 Inovasi Pelayanan Publik Penanganan COVID-19, hari ini.

Dari urun rembug antara penanggung jawab dapur dan relawan, SPJ menurut Dina memutuskan tidak hadir dan menolak penghargaan ini.

Menurutnya pertimbangan menolak adalah pertama SPJ bukanlah organisasi pelayanan public, tapi ini adalah gerakan rakyat untuk rakyat miskin dengan saling membantu. Gerakan lahir karena pemerintah dinilai lalai dan tidak mampu memberikan akses kesehatan, pangan dan kesejahteraan dalam bentuk apapun ke masyarakat miskin.

Kedua, karena bukan organisasi, maka SPJ tidak didukung kepemilikan modal besar dan dihidupi banyak orang serta beroperasi tanpa batas provinsi.

“Penghargaan dari Kemenpan RB dianggap salah alamat. Penghargaan seharusnya diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia yang saling membantu kehidupan satu sama lain di masa sulit,” jelas Dian.

Terakhir, SPJ dengan tegas mengatakan tidak membutuhkan pengakuan dari pemerintah atau negara untuk menghargai kerja yang telah dilakukan selama ini. SPJ bergerak atas dasar kepercayaan masyarakat dari donatur uang, bahan makanan, relawan, dan kelompok petani mengirimkan sayur setiap minggu.

“Kami penghargaan ini dialihkan pemerintah dengan memprioritaskan pemberian penghargaan kepada rakyat miskin berupa akses administrasi, kesehatan, pekerjaan dan pendidikan,” lanjut Dina.
Koordinator dapur Wonocatur, Andhika Kartika Putra mengutarakan gerakan ini lahir pada Maret pasca pemerintah meminta masyarakat tetap di rumah untuk mencegah penularan Covid-19.

“Kelompok rentan, khususnya pemulung di sini, cemas akan keberlangsungan hidup mereka yang tidak bisa bekerja dan tanpa tabungan. Lalu hadir inisiatif menggalang dukungan dari jejaring,” kata Andhika.

Dari donatur, selama Maret sampai Juni, SPJ membagikan sekitar 2.000-2.500 nasi bungku masyarakat terdampak di berbagai titik mulai dari Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul yang didukung 13 titik dapur.

“Sejak Juli lalu, kami sementara menghentikan kegiatan ini. Kami melihat kondisi perekonomian selama pandemi tidak semakin membaik. Kami memikirkan kondisi donator yang akan semakin berat,” ucapnya.

Mengenai kelanjutan gerakan SPJ kedepan, baik Dina maupun Andhika mengaku masih belum menentukan langkah karena masih melihat situasi terbaru.(set)