Koran Jogja – Teknologi yang telah mendominasi dunia membuat orang semakin jarang memegang pena atau pulpen untuk menulis.
Sebab kebanyakan orang memakai papan ketik atau keybord. Tetapi belum lama berselang, pulpen merupakan alat utama yang digunakan untuk menulis.
Pena menjadi alat andalan untuk membuat kisah-kisah yang menakjubkan, mencatat peristiwa sejarah, membuat hukum-hukum penting, hingga instrumen belajar anak sekolah.
Evolusi alat tulis
Pada masa sekitar 300 SM, bangsa Mesir membuat pena buluh untuk menulis di atas bahan papyrus dan perkamen.
Ketika itu, orang memanfaatkan rumput rawa atau bambu berongga berbentuk tabung. Kemudian membentuk salah satu ujungnya supaya seperti ujung pena. Lalu mengisinya memakai cairan tulis.
Selanjutnya pada milenium pertama SM, bangsa Tiongkok memakai kuas untuk menulis. Lalu pada abad ke-6 dan 7, bangsa Spanyol menemukan pena bulu.
Mereka membuat ujung pena dengan memotong ujung bulu burung seperti angsa, kalkun dan angsa.
Bulu burung itu untuk reservoir tinta, dengan struktur seperti jerami yang menahan tinta. Pena bulu baru mulai menghilang pada 1828, saat John Mitchell dari Birmingham membuat mata pena buatan mesin untuk pena celup.
Tetapi metode mencelupkan pena ke dama tinta yang terlalu sering, membuat repot dan memperlambat proses menulis.
Karena rasa frustrasi itu, akhirnya menjadi tonggak sejarah pena yakni penemuan pulpen.
Kelahiran Pulpen
Dilansir dari times of India, penemu dari Roma bernama Petrache Poenaru mengenalkan pulpen pada 1827 dan mendapat paten di Paris, Prancis.
Pena ini memakai tabung tinta dan mata pena menggunakan logam untuk menulis. Temuan ini cukup keren, karena seperti air mancur kecil yang mengisi sendiri tinta, sehingga tyidak perlu mencelupkannya ke dalam tintaselama menulis.
Tetapi muncul masalah baru, terkadang tinta tidak keluar dan kadang banyak yang tumpah, membuat kertas berantasakan.
Selanjutnya pada 1884, penemu Amerika bernama Lewis Edson Waterman mematenkan versi pulpen yang lebih modern dengan sistem pengisian tinta tiga saluran.
Lalu pada abad ke-20 muncul beberapa kemajuan, seperti kartrid tinda yang bisa diganti dan diisi ulang serta badan pulpen yang terbuat dari plastik, logam, dan kayu.
Muncul pulpen
Pada 1888, penemu dari Amerika Serikat John J. Loud mematenkan temuan pulpen. Tetapi desainnya menjadi kendala.
Lalu seorang jurnalis Argentina László Bró, mulai menciptakan desain pena baru pada tahun 1895.
Tapi ada masalah, yakni tinta mudah luntur di atas kertas. Namun akhirnya menemukan solusinya, tinta cepat kering dan bola logam kecil di ujung pena.
Saat digunakan, bola kecil ini berputar mencegah tinta luntur dan memastikan terdistribsi secara merata.
László dan saudaranya, seorang ahli kimia, György, mematenkan desain ini pada tahun 1943, dan menyebutnya ‘biro’.
Pulpen ini menjadi sangat populer. Orang-orang tetap menggunakan pulpen hingga Perang Dunia I, tetapi setelah tahun 1960-an, pulpen mengambil alih.
Pulpen ini dapat menulis di segala macam permukaan seperti kardus, kayu, dan bahkan di bawah air atau di ketinggian. Beberapa bahkan dapat menulis dalam gravitasi nol. (*)
Baca artikel lainnya:
