Ribuan Wisdom Luar Kota Disinyalir Masuk Bantul

by
koran jogja

Bantul, Koran Jogja – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul mensinyalir ribuan wisatawan asal luar Daerah Istimewa Yogyakarta berwisata ke Bumi Projotamansari di libur lebaran kemarin. Pemkab mengakui kesulitan melakukan pengawasan.

Permasalahan ini disampaikan oleh Ketua Komisi D DPRD Bantul Enggar Suryo Jatmiko pada Senin (17/5). Ia menduga selama libur lebaran dari 13-16 Mei kemarin ada sebanyak 20 ribu wisatawan luar DIY yang masuk Bantul.

“Kalau mau jujur, banyak wisatawan dari Provinsi Jawa Tengah, khususnya dari Solo Raya dan Karesidenan  yang lolos saat penyekatan di kawasan wisata. Terutama di Pantai Parangtritis,” ucapnya.

Meski belum ada laporan mengenai lonjakan keterpaparan Covid-19 pasca libur lebaran di Bantul, Miko meminta Pemkab tetap siaga mengantisipasi adanya lonjakan cluster baru. Terlebih diselesaikan masa inkubasi virus pada 7-14 hari.

“Dari pantauan banyak wisatawan yang abai akan penerapan protokol kesehatan khususnya dalam mengenakan masker,” katanya.

Dikonformasi, Bupati Kabupaten Bantul Abdul Halim Muslih mengakui masih ada wisatawan luar DIY yang masuk ke Bantul. Wisatawan tersebut memanfaatkan jalur tikus yang ada di Kabupaten Bantul.

“Ada tiga titik penyekatan yang kita lakukan yaitu di Sedayu, Srandakan dan Piyungan. Para petugas melakukan yang terbaik, namun masih ada yang menerobos utamanya lewat jalan tikus, itu tidak bisa kita hindari,” katanya.

Halim juga menyebut banyaknya wisatawan yang nekat masuk ke Bantul karena tempat-tempat Wisata di Bantul tetap buka selama libur lebaran. Meski ada wisatawan luar DIY yang berwisata di Bantul, dia mengaku hingga saat ini belum ada laporan terkait lonjakan kasus Covid-19.

“Meski objek wisata tetap kita buka, alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan tentang lonjakan paparan Covid-19 utamanya di obyek wisata. Di kawasan Parangtritis, kita sudah memasang rapid test guna mengecek wisatawan. Sampai hari ini alhamdulillah tidak ada laporan paparan Covid-19 di objek wisata,” umbuh Halim.

Halim mengakui pihaknya menemukan kesulitan di lapangan dalam pengecekan daerah asal wisatawan. Minimnya petugas yang berjaga, tidak memungkinkan dilakukannya pemeriksaan satu persatu terhadap semua wisatawan.

“Jadi kita tidak tahu berapa yang masuk. Kita belum punya alat untuk deteksi, dan memang ada kesulitan di lapangan untuk menerapkan di lapangan lalu bisa berpotensi membuat antrean kendaraan juga kan,” katanya.(set)