Sepakat, Teknologi Digital Harus Diajarkan Sejak Dini Agar Lebih Produktif

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Perkembangan industri teknologi digital di Indonesia disebut belum sesuai harapan karena masih sebatas untuk hiburan saja.

Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi I DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sukamta. Menurutnya indikasinya dapat dilihat dari aspek gagap teknologi maupun lemah literasinya.

“Teknologi digital level tinggi kita masih sangat ketinggalan,” katanya dalam Seminar Merajut Nusantara bertema Pemanfaatan TIK sebagai Media Sumber Ilmu Pengetahuan Bukan Hoaks, yang diisiarkan langsung secara virtual dari Hotel Ros Inn Yogyakarta, Kamis (6/5).

Sukamta mengatakan negara-negara maju  mayoritas teknologi digital dimanfaatkan mendukung kegiatan produktif.

“Akses sosial media di negara-negara maju pun rata-rata untuk hal-hal produktif, misal mencari solusi wilayah yang mengalami kekurangan air,” ujarnya.

Anggota Fraksi PKS DPR RI ini mengatakan akibat lemahnya literasi digital ada yang menyebut Indonesia negara paling tidak sopan di dunia. Ini terjadi karena paling pengguna internet senang membullly.

“Dunia digital yang kita ada di dalamnya tidak terhindarkan, pasti akan jadi dunia baru dan harus kita manfaatkan maksimal,” kata dia.

Sukamta mengatakan ke depan teknologi informasi dan komunikasi perlu diajarkan sejak dini, bukan yang sifatnya dasar tetapi agloritma atau bahasa mesin bahasa digital. “Kita ciptakan budaya agar dunia digital digunakan untuk hal-hal produktif,” katanya.

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabar Nurohman, mengakui industri digital di Indonesia tidak mudah fokus.Ia mengungkapkan konten pendidikan lebih sulit berkembang dibanding hiburan.

“Perkembangannya tidak cukup cepat. Anak-anak kita lebih suka cari hiburan di internet daripada mencari informasi sains,” katanya.

Sementara, pakar komunikasi yang dosen UIN Syarif Hidayatullah, Ismail Cawidu mengatakan Indonesia menerapkan kebijakan langit terbuka. Seluruh informasi masuk HP tanpa filter.

“Ini luar biasa. Tidak ditapis dulu oleh negara, karena kita negara demokrasi konsekuensinya harus bebas,” katanya.

Ismail Cawidu mengatakan, berbeda dengan China, misalnya, semua informasi di bawah kendali dan pengawasan pemerintah negara itu. Hanya informasi yang cocok serta sesuai dengan kondisi mereka yang bisa dilepaskan. “Kita masuk dulu baru disaring,” ucapnya.

Ismail mengingatkan dunia internet bukan milik perorangan. Artinya, meski bebas tetapi pengguna internet juga dibatasi. “Nikmati kebebasan asalkan tidak kebablasen. Dunia maya internet hanya alat bantu mengerjakan kebaikan dan pekerjaan produktif. Jangan tinggalkan jejak yang jelek, tapi yang baik,” ucapnya.(reh)