Wisatawan Sepi, Pengusaha Kuliner Bantul Ubah Strategi

by

Bantul, Koran Jogja – Sepinya wisatawan selama pandemi Covid-19 berlangsung membuat pengusaha kuliner di Bantul mengubah strategi pemasaran untuk bertahan dan mendapatkan cuan (uang). Salah satunya dengan membuka warung berskala kecil di banyak tempat.

Hal ini yang turut pula dilakukan oleh manajemen warung Griya Dahar Mbok Sum yang beralamatkan di Dlingo. Sebelum pandemi, warung yang berada di jalan Dlingo-Imogiri dan berkapasitas 700 orang ini tidak pernah pengunjung.

“Awal pandemi kami sempat tutup dua bulan, kemudian buka namun karena kondisi sepi akhirnya kami mengurangi karyawan dari sebelumnya 30 orang menjadi separuhnya saja,” kata pengelola, Sudarmono, Rabu (24/2).

Karena tidak tahu pandemi berlangsung sampai kapan dan wisatawan kapan diperbolehkan berkunjung, Sudarmono lantas mengubah strategi dengan mendirikan warung-warung yang lebih kecil dengan menyediakan menu berbeda di banyak tempat.

Sejak November lalu, warung yang diluncurkan bernama ‘Bebek Goreng Keplok’ di jalan Imogiri-Selopamioro. Selain sebagai pengembangan usaha utama, keberadaan warung ini juga untuk memberi pekerjaan rekan-rekan karyawan yang sempat diberhentikan.

Sudarmono mengatakan tujuan menghadirkan warung kecil di banyak tempat ini bertujuan untuk mendekatkan diri dengan pelanggan. Tentu saja dengan menu yang harganya lebih terjangkau, Sudarmono berharap akan banyak pembeli yang di masa pandemi ini bisa menikmati menu tanpa ada kekurangan rasa.

“Alhamdulilah, meski baru dua bulan. Dari warung pertama ini saya berani membuka lagi warung yang baru di Dusun Jomblang, Desa Palbapang, Bantul. Dan kami mempekerjakan kembali enam karyawan lama,’ jelasnya.

Meski tempatnya lebih kecil, hanya berkapasitas 40 orang. Sudarmono mengatakan pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan dengan meminta setiap pengunjung melakukan 5M dan menyarankan mereka untuk membungkus makanan untuk dibawa pulang.

Kedepan, Sudarmono menargetkan akan dibuka sebanyak 10 warung bebek goreng dengan konsep yang sama se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan harga menu per potong bebek goreng Rp25 ribu, di warung ini pengunjung dibebaskan mengambil nasi sepuasnya.

“Kami bersyukur mas, meski warung utama mengalami penurunan omzet hingga hanya Rp2 juta seminggu. Dari keberadaan warung kecil ini, penjualan 25 ekor bebek sudah bisa diputar lagi untuk kebutuhan yang lain,” kata Sudarmono.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *