Apa Itu Ghosting dan Dampak Negatifnya

by

Koran Jogja – Sama seperti teknologi yang telah memperkenalkan kemungkinan adanya koneksi baru, dan juga membuatnya lebih mudah dari sebelumnya. Ghosting adalah cara modern mengambil strategi lama dan melibatkan penggunaan teknologi untuk secara tiba-tiba memutuskan kontak dengan seseorang.

Ghosters mungkin menandakan bahwa suatu hubungan telah berakhir dengan menghindari panggilan telepon mantan pasangan, mengabaikan pesan teks mereka, atau bahkan memblokir mereka di media sosial. Meskipun ghosting dapat terjadi pada tahap apa pun dalam suatu hubungan, hal ini sangat umum terjadi pada aplikasi kencan dan dalam situasi ketika orang tidak berharap untuk bertemu lagi dengan bertatap muka.

Mengapa People Ghost

Terlepas dari reputasinya yang buruk, ghosting tidak selalu dilakukan dengan niat jahat. Dalam situasi tertentu, bahkan ada alasan bagus untuk membuat hubungan menjadi berbayang. Misalnya, terkadang orang menjadi menghilang sebagai tanggapan atas perilaku kasar, atau karena mereka percaya itu lebih baik daripada mengatakan yang sebenarnya tentang mengapa mereka tidak lagi tertarik untuk menjalin hubungan.

Dikutip dari psychology today, dalam sebuah penelitian, Manning dan rekannya melakukan wawancara mendalam dengan 30 orang dewasa muda tentang alasan mereka memutuskan hubungan melalui ghosting. Mereka menemukan bahwa penjelasan untuk ghosting sangat bervariasi dan dimotivasi oleh berbagai faktor.

Sementara beberapa orang menjadi menghilang karena mereka bertemu orang lain atau tidak menganggap hubungan itu cukup serius sehingga membutuhkan penjelasan, yang lain mengatakan mereka takut mengatakan sesuatu yang akan menyakiti perasaan mantan pasangan. Ada juga orang yang menjadi hantu karena takut dengan reaksi orang lain terhadap suatu penolakan. Khususnya bagi wanita, ghosting terkadang merupakan respons terhadap pelecehan yang membuat mereka memiliki sedikit pilihan selain menghilang dengan cepat.

Berduka atas Dampak Negatifnya

Terlepas dari mengapa ghosting terjadi, masih ada ruginya jika suatu hubungan berakhir tiba-tiba dan tanpa penjelasan. Dalam studi lain, Timmermans dan rekan penulisnya mensurvei 328 pengguna aplikasi kencan tentang konsekuensi ghosting. Banyak yang mengalami emosi negatif seperti merasa sedih, marah, dan kecewa. Beberapa mengindikasikan bahwa ghosting merusak harga diri mereka dan membuat mereka sulit mempercayai orang lain. Beberapa bahkan mengatakan itu berkontribusi pada depresi.

Saat suatu hubungan berakhir, orang ingin tahu mengapa. Tapi ghosting menawarkan sedikit cara untuk menutupnya. Hal ini dapat membuat ghosting menjadi salah satu efek samping yang lebih umum dan membuat frustasi dari kencan digital. Salah satu solusinya mungkin Caspering, yang telah digambarkan sebagai bentuk ghosting yang “lebih ramah” di mana orang-orang memberikan kekecewaan penuh belas kasih sebelum menarik diri dari suatu hubungan.(rid)