Apresiasi Legenda Balap, Kang Emil Berikan Tiket Nonton MotoGP Mandalika

by

Koran Jogja – Efuria Moto GP Mandalika mengingatkan Gubernur Jawa Barat pada nama Tjetjep Heriyana (83).

Legenda balap Indonesia 1970-an yang pernah berlaga di dan juara tiga di Grand Prix Macau mendapatkan tiket gratis menonton lansung di Lombok.

Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– menuturkan, tiket tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada Tjetjep yang pada 1970-an sudah mengharumkan nama Indonesia di ajang balap motor.

“Pak Tjetjep ini orang yang punya minat kuat di bidang otomotif. Prestasi beliau diakui dunia. Jadi, ini bentuk apresiasi dari Pemda Provinsi Jabar untuk beliau yang sudah sangat berjasa membawa nama negara,” kata Kang Emil, katanya Jumat (18/3).

Penyerahan tiket nonton dan bantuan akomodasi bersam anak serta cucuknya diserahkan pada Selasa (15/3). Pada Kamis (17/3) kemarin Tjetjep yang mengharumka Jawa Barat berangkat ke Lombok.

Sebelum berangkat, Tjetjep menjalani d pemeriksaan kesehatan oleh Dokter Ayi Abdul. Dari pemeriksaa nadi dan saturasi oksigen normal.

Dokter Ayi menyatakan ondisi tubuh, bagian paru dan perut, semua dalam kondisi batas normal dan sudah tidak ada keluhan.

“Hadiah ini bertambah spesial karena Kang Tjetjep pada 26 Maret nanti, memasuki usia 83. Saya berharap beliau berbahagia dengan apresiasi tiket nonton langsung balap motor kelas dunia,” tambah Kang Emil.

Tjetjep yang tinggal di Cimahi, merasa bahagia dan antusias menyaksikan ajang ‘kuda besi’ di Mandalika secara langsung. Ia mengucapkan terima kasih kepada Kang Emil.

“Terima kasih banyak Pak Gubernur. Saya enggak bisa ungkapkan apa-apa. Pokoknya saya senang sekali. Karena selama ini hanya bisa melihat MotoGP di TV,” ucapnya.

Kecintaan Tjetjep kepada balap motor muncul sejak usia 13 tahun. Secara otodidak ia belajar banyak hal. Di antaranya sempat ke Jerman dan Italia, guna menambah ilmu tentang mesin motor.

Tjetjep meraih banyak trofi selama berkarir sebagai pembalap motor. Berapa jumlah medali dan trofi yang pernah diraihnya, Tjejep mengaku tidak ingat seratus persen. “Sekitar 110 medali. Tapi, sekarang cuma ada 10 kalau tidak salah,” sebutnya.

Prestasi tertinggi Tjetjep adalah juara 3 Grand Prix Macau pada 1970. “Dulu saya pernah juara tiga di Macau,” kenangnya.

Empat tahun berselang, Tjetjep terpaksa pensiun dari dunia balap motor. Kecelakaan di GP Batu Tiga, Kuala Lumpur, Malaysia, memastikan kondisi fisiknya tidak dapat lagi beradu cepat di sirkuit.

Meski begitu, Tjetjep tidak pernah meninggalkan dunia balap motor sepenuhnya. Ia masih mengikuti perkembangan dunia balap motor. Mulai dari pembalap yang beradu cepat di MotoGP, perkembangan mesin motor balap, sampai Sirkuit Mandalika.

“(Sirkuit Mandalika) ini luar biasa. Ini salah satu yang terbagus. Ada laut, ada gunung. Itu jadi antik. Sama kayak Macau,” ucapnya bangga. (Set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *