Ditiadakan Tahun Ini, ROAR 2020 Pilih Kampanyekan Masker

by

Yogyakarta, Koran Jogja – Panitia festival gamelan tahunan Rhapsody Of The Archipelago memutuskan meniadakan pertunjukan tahun ini. Sebagai gantinya, melalui video mereka mengkampanyekan pengguanaan masker.

Dalam rilisnya Selasa (22/12), Project Director ROAR, Ari Wulu mengatakan pihaknya memilih menunda segala rencana yang sudah terencana sejak awal tahun.

“Usai keberhasilan ROAR : Gamelan 4.0 tahun lalu dimana menyita perhatian dunia dengan kolaborasi berbagai aliran musik modern dengan gamelan di panggung Grha Sabha Pramana UGM. Kita ingin mengulang kembali,” katanya.

Namun di tengah pandemi Covid-19, panitia ROAR memutuskan tudak berdiam diri dan bergerak untuk membantu agar kesulitan lekas selesai dengan meniadakan pertunjukan.

‘Menunda adalah keputusan yang terbaik untuk semua,” lanjutnya.

Meski ditiadakan, ROAR memilih bergerak dengan berkampanye melalui jejaring online dengan tajuk ‘Maskermu Harimaumu’. Hal ini kiranya jauh lebih penting untuk dilakukan daripada hingar bingar.

Tema ini menurut Ari sebagai upaya mengingatkan semua orang harus menahan diri, seperti halnya sedang berpuasa. Hasrat dan gairah yang meluap harus dibendung dengan dinding kesabaran yang luar biasa.

“Pun begitu dengan mulut kita. Siapa yang menyangka, mulut, bagian tubuh yang paling sulit untuk kita jaga ini, harus kita jaga lebih ketat lagi. Melalui mulut, dapat tersebar virus yang bisa membahayakan kita semua, secara harafiah. Lalu kita tutupi mulut dan sebagian wajah dengan masker, demi kesehatan,” jelasnya.

Kampanye penggunaan masker ini akan dilakukan secara online dengan menampilkan video pendek yang dikemas unik dan antraktif berisi ajakan menggunakan masker dari tokoh maupun seniman hingga akhir tahun.

Ari menyebut ada lima seniman yang sudah tampil dalam video yaitu Noe Letto, Farid Stevy (FSTVLST), Gusti (Tashoora), Alit Jabangbayi, Surya Widodo, Ari Karikatur, dan beberapa nama besar seperti Rektor UGM Panut Mulyono serta Mensegneg Pratikno.

“Garis besar dalam gerakan ini untuk menggerakkan anak-anak muda terus memakai masker sebagai sebuah gerakan budaya,” katanya.

Najib Azca, pemerhati budaya menilai ROAR menjadi salah satu tonggak penanda kolaborasi luar biasa musik dan seni kreatif lainnya dalam satu panggung.

“Menarik sekali menyaksikan Palapa kolaborasi dengan gamelan, lalu FSTVLST dengan gamelan. Kita harus tahan diri nih berarti, tahun depan menunggu ide luar biasa apa yang bakal terjadi. Sekarang, kita pakai masker dulu bareng biar tahun depan bisa sehat nonton ROAR lagi,” ungkapnya.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *