Selasa, 27 Januari 2026
Koran Jogja

Kisah Lenyapnya Hampir 40 Persen Penduduk Yogyakarta Akibat Perang Jawa 

Kisah Lenyapnya Hampir 40 Persen Penduduk Yogyakarta Akibat Perang Jawa. (media center Sleman)
Kisah Lenyapnya Hampir 40 Persen Penduduk Yogyakarta Akibat Perang Jawa. (media center Sleman)

Koran Jogja – Perang Jawa yang terjadi pada 1825 sampai 1830 silam atau pada era kolonial menyebabkan jumlah penduduk di Kasultanan Yogyakarta merosok drastis.

Fakta itu diungkapkan pegiat sejarah Yoga WR pada acara ‘Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa” di Dalem Singodikaran, Kadisono, Tempel, Sleman pada Minggu 14 Desember 2025 lalu.

Yoga mengutip data demografi sebelum tahun 1825 mengungkapkan, jumlah penduduk di Kasultanan Yogyakarta sekitar 330 ribu jiwa.

Kemudian merujuk pada sumber yang sama yakni “Algemeen Verslag” tahun 1831, jumlah penduduk Kasultanan Yogyakarta berkurang drastis menjadi 196.158 jiwa.

“Artinya hampir 40 persen penduduk Kasultanan Yogyakarta lenyap karena Perang Jawa,” katanya disadur dari laman media center Sleman.

Yoga meneyebut, Perang Jawa tidak terjadi secara tiba-tiba. Namun akar konfliknya sudah tumbuh lama.

Akar masalahnya sejak Raden Mas Ontowiryo diangkat menjadi Putra Mahkota dengangelar Pangeran Diponegoro pada 1812.

Kemudian sejak 1817. Muncul sejumlah gerakan masa, membentuang dari Kedu bagian selatan di barat Yogyakarta sampai Madiun di sisi timur.

Gerakan tersebut melibatkan ribuan rakyat yang resah akibat penindasan, pajak berat, dan intervensi kolonial.

Ketegangan pun berubah menjadi kerusuhan secara terbuka menjelang perang besar pada 1825.

Rakyat yang melakukan perlawanan menemukan simbol serta pemimpinnya yakni sosok Pangeran Diponegoro.

Penjajah yakni Belanda kemudian mengerahkan kekuatan besarnya. Pasukan didatangkan dari Batavia, Tegal, Semarang, Surabaya, dan bantuan dari Sumatra, Kalimantan, Ambon, hingga Eropa.

Ada lagi tentara bayaran yang didatangkan dari Jerman dan Swiss yang menunjukkan keseriusan ancaman.

Sementara itu, Pangeran Diponegoro tidak berjuang sendiri. Dia mendapat dukungan dari sejumlah Pangeran Yogyakarta.

Kemudian ada 56 pondok pesantren, 14 korips reguler Keraton Yogyakarta, para loyalis, hingga eks prajurit Sultan Hamengku Buwono II yang diberhentikan oleh Raffles.

Perang tersebut menjadi perpaduan antara perlawanan bangsawan, ulama, serta rakyat jelata yang bersatu melawan ketidakadilan.

Yoga dalam hasil peneltiiannya menyebut tidak ada temuan bukti adanya instruktur militer asing yang melatih pasukan Diponegoro.

Hal tersebut menegaskan kekuatan perlawanan Jawa lahir melalui pengalaman tempur lokal, pengetahuan medan, hingga keyakinan ideologis dan spiritual. (*)

Baca artikel lainnya:

Leave a Reply