Mabes Polri; Pabrik Pil Keras Di Bantul Tangkapan Terbesar

by

Bantul, Koran Jogja – Mabes Polri mengerebek dua gudang yang berada di Kecamatan Kasihan, Bantul dan Kecamatan Gamping, Sleman. Dua lokasi ini menjadi tempat produksi pil-pil keras dan berbahaya dengan omzet terbesar se-Indonesia.

“Per harinya kedua pabrik memproduksi dua juta per butir hari dengan tujuh mesin produksi. Jika satu butir pil dijual Rp1.000, maka omzet yang diperoleh mencapai Rp2 miliar,” kata Kabareskrim Komjen Agus Andrianto saat jumpa pers di tempat kejadian perkara (TKP) Bantul, Senin (27/9).

Pabrik yang pertama kali digerebek pada Rabu (22/9) dinihari berada di Jalan IKIP PGRI nomor 158 Desa Ngestiharjo. Dari sana penggerebekan dilanjutkan ke pabrik yang ada di Desa Nologaten, Kecamatan Gamping, Sleman yang berjarak 5 Km dari lokasi pertama. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.

“Pabrik ini terungkap melalui penangkapan 13 tersangka yang terjaring dalam Operasi Koplo 2021 pada medio 13-15 September di berbagai kota di Jawa Barat dan Jakarta,” kata Kabareskrim Agus.

Dit Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Krisno H. Siregar penggerebekan ini bermula tertangkapnya delapan orang pengedar obat keras dan psikotropika di Cirebon,Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jaktim dengan barang bukti 5 juta pil.

“5 juta pil siap edar itu berjenis Hexymer, Trihex, DMP, Tramadol, double L, dan Alprazolam,” jelasnya.

Lewat pendalaman pada Rabu (22/9) dinihari, tim dari Mabes Polri menggerebek Saat penggerebekan di Bantul, dua saksi yaitu Ardi dan Wisnu mengatakan mereka bekerja untuk Daud alias DA (49) yang diamankan di Kasihan.

Diperiksa Daud ini membenarkan dia bekerja atas perintah Joko alias J kakaknya yang kemudian ditangkap di Gamping, Sleman.

“Teknisnya kedua orang ini menjalankan pabrik dan memenuhi pesanan atas nama EY yang saat ini kami tetapkan sebagai buron. Dua pabrik ini beroperasi sejak 2018,” jelas Brigjen Krisno.

Pabrik ini dijalankan sesuai dengan arahan EY yang kami tetapkan sebagai buron. Perlu diketahui pabrik di DIY ini sudah beroperasi sejak 2018 silam,’ jelasnya.
Dalam teknisnya, Brigjen Krisno mengatakan

EY pulalah yang menjadi otak bisnis obat-obatan illegal ini. Dia bertindak sebagai pengatur pesanan dan pendistribusian pil-pil ke berbagai kota.

“Dengan tujuh mesin, produksi dalam sebulan mencapai 420 juta yang kemudian dikirimkan ke pemesan di Jabar, Jatim, Kalsel, dan Kaltim,” jelasnya.(set)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *